Israel bersiap menghadapi babak penentuan politik pada 27 Oktober mendatang. Pemilihan umum kali ini menjadi sorotan tajam karena elektabilitas Perdana Menteri petahana, Benjamin Netanyahu, terus merosot akibat akumulasi kritik publik yang kian deras.
Sentimen negatif terhadap pemerintahan Netanyahu dipicu oleh kegagalan sistem keamanan dalam mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Selain isu keamanan, Netanyahu juga terhimpit beban kasus korupsi yang belum tuntas serta kebijakan kontroversial terkait pengecualian wajib militer bagi kelompok Ultra-Ortodoks yang memicu ketegangan sosial.
Data survei dari Channel 12 memberikan sinyalemen kuat adanya pergeseran dukungan. Netanyahu kini tertinggal dari mantan Kepala Staf Militer, Gadi Eisenkot, dalam tingkat kelayakan memimpin. Netanyahu hanya mengantongi 35 persen dukungan, sementara Eisenkot unggul jauh dengan 45 persen. Partai Likud pun diprediksi hanya meraih 20 kursi, kalah tipis dari partai Yashar milik Eisenkot yang diproyeksikan mengamankan 23 kursi.
Sistem politik Israel menuntut ambang batas 61 kursi dari total 120 kursi parlemen untuk membentuk pemerintahan. Mengingat persaingan sengit antara kubu Netanyahu dan Eisenkot, pembentukan koalisi diprediksi akan berjalan alot dan memakan waktu lama, serupa dengan drama politik tahun 2022 yang membutuhkan waktu hingga 58 hari.
Skenario pertama yang mungkin terjadi adalah pembentukan koalisi melalui negosiasi alot dengan partai-partai kecil. Kehadiran dua partai sayap kanan baru yang berjuang menembus ambang batas parlemen akan menjadi penentu krusial bagi peta koalisi kedua blok besar tersebut.
Jika koalisi mayoritas gagal terbentuk, skenario kedua adalah pemerintahan minoritas. Di sini, partai-partai Arab yang diproyeksikan meraih 12 hingga 14 kursi melalui koalisi Joint List dan Raam memegang kartu as. Meski Mansour Abbas dari Raam menyatakan kesediaan bekerja sama dengan kubu Eisenkot, hambatan ideologis dan permusuhan dari pemilih Yahudi menjadi tantangan nyata bagi aliansi ini.
Skenario ketiga adalah pemerintahan persatuan nasional. Meski secara teoretis sulit diwujudkan karena polarisasi ekstrem, Presiden Isaac Herzog dilaporkan tengah berupaya menjembatani Netanyahu dan Eisenkot. Jika terwujud, pemerintahan darurat nasional serupa tahun 2020 bisa tercipta, namun Netanyahu harus rela melepas sekutu sayap kanannya.
Opsi terakhir adalah kebuntuan total yang berujung pada pemilu baru. Sepanjang 2019 hingga 2021, Israel terjebak dalam siklus empat pemilu beruntun karena kegagalan politikus membentuk koalisi yang stabil. Ketidakmampuan kandidat untuk mengumpulkan 61 kursi dalam batas waktu 28 hari ditambah perpanjangan 14 hari akan memaksa rakyat kembali ke bilik suara.
Bagi masyarakat Indonesia, dinamika politik Israel ini memiliki implikasi geopolitik yang signifikan. Stabilitas di kawasan Timur Tengah sangat bergantung pada siapa yang memegang kendali di Tel Aviv. Perubahan kepemimpinan di Israel berpotensi meredam atau justru memperuncing konflik yang berdampak langsung pada sentimen global, termasuk di Indonesia yang memiliki kebijakan luar negeri pro-kemerdekaan Palestina.
Dibandingkan dengan sistem multipartai di Indonesia yang cenderung membentuk koalisi permanen pasca-pemilu, sistem Israel lebih dinamis dan rentan terhadap pembelotan. Hal ini menjadi cermin bagi publik Indonesia tentang pentingnya stabilitas koalisi dalam menjaga keberlangsungan kebijakan negara di tengah perbedaan ideologi yang tajam.
Langkah selanjutnya akan sangat bergantung pada hasil pemungutan suara akhir bulan ini. Jika Netanyahu benar-benar tumbang, hal ini akan menandai berakhirnya era politik terlama dalam sejarah Israel. Namun, jika ia mampu bermanuver melalui koalisi, ketidakpastian politik di kawasan tersebut dipastikan akan terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan.
Tren ke depan menunjukkan bahwa pemilih Israel semakin pragmatis dalam menilai isu keamanan dan domestik. Dominasi tokoh lama mulai digantikan oleh sosok dengan latar belakang militer yang dianggap lebih mampu memulihkan kepercayaan publik pasca-kegagalan intelijen yang memalukan setahun lalu.