Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, secara resmi menyatakan bahwa dokumen akhir dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang akan diselenggarakan di Ankara tidak memuat kewajiban bagi negara anggota untuk memberikan bantuan keuangan kepada Ukraina.
Fico mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima konfirmasi tertulis dari Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Dalam surat tersebut, Rutte menegaskan bahwa deklarasi yang akan diadopsi pada KTT tanggal 7-8 Juli mendatang tidak akan memaksa negara anggota untuk mengambil keputusan pendanaan yang bersifat mengikat demi kepentingan Ukraina.
Pernyataan ini muncul setelah Fico sebelumnya secara tegas menyampaikan posisi Slovakia kepada pihak NATO. Slovakia menyatakan ketidaksediaannya untuk terlibat dalam skema pendanaan apa pun yang ditujukan untuk mendukung bantuan militer bagi Ukraina, dengan alasan ingin menjaga netralitas dalam konflik yang sedang berlangsung.
Lebih lanjut, Fico menekankan bahwa meskipun Slovakia tidak akan menanggung biaya militer bagi Ukraina, negaranya tetap berkomitmen untuk memberikan bantuan dalam bentuk kemanusiaan. Menurutnya, pemerintah Bratislava memahami adanya situasi krisis yang memerlukan dukungan, namun dukungan tersebut tidak boleh berbentuk persenjataan atau keterlibatan langsung dalam perang.
Di sisi lain, Rusia terus memberikan peringatan keras terkait pasokan senjata dari negara-negara Barat ke Ukraina. Moskow menilai bahwa bantuan militer tersebut hanya akan memperpanjang durasi konflik dan membuat negara-negara anggota NATO dianggap sebagai pihak yang terlibat langsung dalam pertempuran di lapangan.
Sebagai tanggapan atas situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menegaskan kembali bahwa setiap pengiriman paket bantuan yang memuat persenjataan militer untuk Ukraina akan dianggap sebagai target yang sah bagi operasi militer Rusia. Ketegangan ini terus menjadi perhatian utama dalam dinamika diplomasi internasional menjelang KTT NATO di Ankara.