Teknologi

SMAN 77 Jakarta Integrasikan Antiberundungan dan Literasi Digital dalam MPLS 2026

Ringkasan

  • Sebanyak 213 siswa baru SMAN 77 Jakarta mengikuti MPLS hari kedua pada 14 Juli 2026 yang menonjolkan materi antiperundungan dan bahaya narkoba.

SMAN 77 Jakarta di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, memfokuskan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 pada pembentukan karakter dan keamanan psikologis siswa. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Mugi Mulyani, menyatakan bahwa tema besar yang diusung ialah menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, serta bersih dari berbagai ancaman kekerasan.

Sebanyak 213 murid baru diterima di sekolah tersebut pada tahun ini. Persiapan telah dimulai sejak pra-MPLS yang digelar pada Sabtu, 11 Juli 2026, bertujuan mengenalkan suasana sekolah dan para guru kepada peserta didik. Selama MPLS berlangsung dari 13 hingga 17 Juli 2026, siswa hanya diminta membawa tanda pengenal, topi, dan tumbler sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar tanpa beban biaya tambahan.

Penekanan pada materi antiperundungan tidak lepas dari instruksi Mendikdasmen Abdul Mu'ti yang melarang praktik perpeloncoan maupun senioritas dalam pelaksanaan MPLS. Mu'ti menegaskan bahwa MPLS harus menjadi awal yang menyenangkan bagi peserta didik untuk mengenal lingkungan, bukan ajang intimidasi. Hal ini menjadi respons langsung atas budaya perploncoan yang kerap menyisakan trauma bagi murid baru di berbagai daerah.

Latar belakang digencarkannya edukasi antiperundungan juga disebabkan oleh maraknya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan yang kerap tidak terlaporkan. Pihak sekolah menyadari bahwa transisi dari jenjang sebelumnya membutuhkan pendekatan empatik. Pada hari pertama MPLS, Senin 13 Juli 2026, Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta hadir memberikan pemahaman mendalam terkait perlindungan anak di sekolah.

Di hari kedua, SMAN 77 Jakarta mengundang berbagai institusi eksternal untuk memperkaya materi siswa. Anggota TNI memberikan pelatihan baris-berbaris guna menumbuhkan disiplin, sementara Badan Narkotika Nasional (BNN) menyampaikan edukasi bahaya narkoba. Palang Merah Indonesia (PMI) dan kepolisian turut dilibatkan untuk pembekalan kebencanaan serta penyadaran hukum sejak dini, menunjukkan kolaborasi multisektoral dalam satu kegiatan orientasi.

Bagi ekosistem pendidikan Indonesia, pendekatan MPLS yang ramah dan berbasis perlindungan anak mencerminkan pergeseran paradigma yang sangat positif. Sekolah tidak lagi sekadar mengejar kepatuhan hierarkis, melainkan memprioritaskan kesejahteraan mental peserta didik. Iklim belajar yang kondusif terbukti membantu konsentrasi siswa dalam meraih prestasi akademik maupun non-akademik.

Dalam perspektif era digital, materi antiperundungan di sekolah kini menghadapi tantangan baru berupa cyberbullying. Generasi Gen Z dan Alpha sangat akrab dengan media sosial, sehingga edukasi di SMAN 77 seyogyanya juga menyentuh aspek literasi digital. Perlindungan anak tidak lagi cukup di ruang kelas fisik, melainkan harus meluas ke ruang siber yang kerap menjadi tempat suburnya intimidasi virtual antar pelajar.

Perbandingan dengan situasi nasional menunjukkan bahwa tidak semua sekolah memiliki kapasitas sumber daya untuk mendatangkan institusi seperti BNN atau TNI. Sekolah di wilayah terpencil sering kali hanya mengandalkan guru internal untuk MPLS. Oleh karena itu, keberhasilan SMAN 77 dalam menggandeng berbagai pihak dapat menjadi model replikasi bagi satuan pendidikan lain yang ingin menerapkan MPLS bermartabat tanpa biaya mahal.

Mugi Mulyani berharap seluruh murid baru dapat menempuh pendidikan di SMAN 77 dengan perasaan aman dan tanpa tekanan. "Tanpa adanya rasa takut secara fisik maupun psikis," ujarnya, menekankan bahwa tujuan akhirnya adalah fokus mencapai cita-cita. Sekolah juga memastikan inklusivitas dengan menyediakan ruang serba guna bagi siswa non-Muslim untuk berdoa bersama, selain salat berjamaah di masjid bagi Muslim.

Aktivitas MPLS di sekolah ini dirancang agar tidak membebani fisik siswa. Kegiatan diakhiri siang hari, dilanjutkan dengan senam bersama, pengenalan fasilitas publik seperti kantor kelurahan, hingga penampilan ekstrakurikuler. Pendekatan holistik ini mengajarkan siswa bahwa sekolah merupakan bagian dari ekosistem masyarakat yang lebih luas, bukan menara gading yang terisolasi.

Ke depan, langkah selanjutnya bagi SMAN 77 dan sekolah lain di Indonesia adalah memastikan nilai-nilai MPLS bertahan sepanjang tahun ajaran. Pengawasan berkelanjutan terhadap tindak perundungan harus diwujudkan dalam sistem pelaporan yang aman bagi siswa. Pembentukan tim advokasi siswa dapat menjadi terobosan agar kasus kekerasan dapat ditangani sebelum membesar.

Tren positif MPLS Ramah 2026 juga membuka peluang bagi platform teknologi pendidikan (EdTech) lokal untuk menyediakan modul antiperundungan berbasis aplikasi. Integrasi kurikulum karakter dengan teknologi akan memudahkan guru memantau dinamika sosial siswa. Dengan demikian, transformasi pendidikan Indonesia tidak hanya terjadi di atas kertas kebijakan, tetapi benar-benar terasa hingga ke tingkat psikologis pelajar.

Mengapa Ini Penting

Penekanan antiperundungan dalam MPLS mencerminkan urgensi nasional untuk memutus rantai kekerasan struktural di satuan pendidikan yang selama ini kerap dianggap lumrah. Di era konvergensi digital, ancaman perundungan telah bertransformasi menjadi cyberbullying yang membutuhkan literasi teknologi sejak dini agar generasi muda kebal terhadap intimidasi virtual. Keberhasilan kolaborasi multisektoral di SMAN 77 juga menunjukkan bahwa perlindungan anak tidak bisa hanya mengandalkan Kemendikdasmen, melainkan butuh keterlibatan BNN, TNI, dan Polri. Masyarakat Indonesia luas berharap model MPLS ramah ini dapat menekan angka drop-out akibat trauma dan meningkatkan kualitas mental sumber daya manusia di masa depan.

Sumber Asli
Nasional
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit