Sri Lanka mengambil langkah drastis dengan melibatkan tentara secara masif untuk menekan penyebaran demam berdarah. Setelah sebulan menggunakan bantuan militer, otoritas kini menambah jumlah tenaga medis dan aparat keamanan mulai hari Kamis.
Kepala Unit Pengendalian Dengue Nasional Kapila Kannangara menyatakan fokus utama berada di ibu kota Kolombo serta dua distrik di sekitarnya yang mencatat kasus tertinggi. Lonjakan infeksi membuat rumah sakit berisiko kewalahan jika tidak dihentikan.
Demam berdarah menimbulkan gejala demam tinggi, nyeri otot, mual, dan pada kasus parah berujung pendarahan fatal. Nyamuk Aedes pengangkut virus memiliki ciri khas garis hitam-putih di kaki dan berkembang biak di genangan air diam.
Data resmi menunjukkan 61.057 orang terinfeksi dalam enam bulan pertama tahun ini, lebih dari dua kali lipat angka 30.060 infeksi pada periode sama tahun 2025. Bulan ini saja lebih dari 15.000 warga tertular virus tersebut.
Angka tersebut masih di bawah rekor 2017 dengan 186.000 kasus dan 440 kematian, namun tren kenaikan sejak awal tahun cukup mengkhawatirkan. Penyebaran yang cepat memaksa pemerintah bertindak agresif demi mencegah bencana kesehatan lebih luas.
Bagi Indonesia, negara di Asia Tenggara yang juga endemik demam berdarah, situasi Sri Lanka menjadi cermin betapa cepatnya virus ini menyebar di tengah perubahan iklim. Kementerian Kesehatan RI rutin melaporkan puluhan ribu kasus tiap tahun, dengan puncak biasanya saat musim hujan.
Perbedaannya, Indonesia lebih mengandalkan gerakan masyarakat dan pengawasan jentik serta inovasi seperti nyamuk Wolbachia di Yogyakarta daripada pendekatan militer. Langkah Kolombo yang menurunkan tentara menunjukkan urgensi luar biasa ketika sistem kesehatan terancam overload.
Masyarakat Indonesia perlu waspada karena nyamuk Aedes aegypti sama berpotensi menyebarkan virus saat lingkungan tak terjaga. Teknologi deteksi sarang berbasis aplikasi dan partisipasi warga terbukti efektif menekan angka kematian di beberapa daerah padat.
"Kami meluncurkan gerakan baru mulai besok untuk memperluas cakupan ke area lebih luas dengan tambahan staf dan personel keamanan," ujar Kannangara dalam konferensi pers di Kolombo. Ia menekankan perlunya pengendalian tanpa penundaan agar fasilitas kesehatan tidak kelebihan muatan.
Pejabat unit tersebut menyebut pentingnya memutus rantai penularan secepat mungkin. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya memperingatkan dengue dan virus bawa nyamuk lain menyebar lebih cepat serta meluas akibat krisis iklim.
Ke depan, Sri Lanka berencana mempertahankan kekuatan ganda tersebut sampai tren infeksi melandai. Jika gagal, distrik lain bisa menyusul Kolombo sebagai zona merah dengan risiko kematian makin tinggi.
Peningkatan suhu global diprediksi memperpanjang musim berkembang biak nyamuk, membuat kampanye seperti ini bukan sekadar respons temporer tetapi kebutuhan tahunan. Negara berkembang dengan sistem kesehatan terbatas wajib belajar dari langkah militer Sri Lanka demi melindungi warga.