Bisnis & Startup

Startup Finansial AI Flex Raup Rp1,1 T, Valuasi Meroket Jadi Rp19 T

Ringkasan

  • Startup finansial AI Flex di AS mengantongi dana segar 70 juta dolar AS yang dipimpin Halo Fund, Selasa, sehingga valuasinya meroket menjadi 1,2 miliar dolar AS.

Flex, perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) yang memposisikan diri sebagai penyedia layanan perbankan menyeluruh bagi pemilik bisnis menengah, resmi menutup putaran pendanaan Seri B1. Pendanaan senilai 70 juta dolar AS tersebut dipimpin oleh Halo Fund, firma ventura yang didirikan bersama oleh pemilik klub basket Utah Jazz, Ryan Smith, serta mitra Accel, Ryan Sweeney.

Meski manajemen Flex tidak membeberkan angka valuasi secara resmi pada Selasa lalu, sumber terdekat dari kesepakatan tersebut mengonfirmasi bahwa putaran terbaru ini menilai startup berusia tiga tahun itu di angka sekitar 1,2 miliar dolar AS. Capaian ini lebih dari dua kali lipat dari valuasi yang mereka dapatkan enam bulan sebelumnya.

Laju pertumbuhan valuasi Flex mencerminkan geliat investor global yang mulai melirik segmen bisnis menengah sebagai pasar yang belum terjamah maksimal. Chief Executive Officer Flex, Zaid Rahman, menggunakan istilah "jumbo shrimps" untuk menggambarkan perusahaan menengah dengan pendapatan tahunan puluhan hingga ratusan juta dolar AS. Segmen ini kerap terabaikan oleh perusahaan teknologi finansial (fintech) tradisional yang biasanya menyasar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) atau korporasi raksasa.

Di Amerika Serikat, terdapat sekitar 350.000 hingga 400.000 pemilik bisnis yang mengelola 40 persen dari total penggajian (payroll) negara tersebut. Secara global, jumlahnya membengkak menjadi 3 juta pemilik bisnis yang mengendalikan separuh dari perekonomian dunia. Rahman melihat celah ini sebagai peluang emas untuk menjadikan Flex sebagai "rumah finansial tunggal" bagi para pelaku usaha tersebut.

Berbeda dengan startup AI keuangan lain yang berfokus pada tugas spesifik seperti pembukuan atau manajemen pengeluaran, Flex mengemas kredit privat, keuangan bisnis, keuangan pribadi, dan alat pembayaran ke dalam satu platform. Perusahaan juga menghadirkan agen AI bernama Beacon AI yang memberikan laporan kondisi keuangan mingguan kepada pemilik usaha.

Model bisnis Flex menawarkan pelajaran berharga bagi ekosistem fintech di Indonesia. Di tanah air, perbankan dan layanan keuangan digital masih sangat terkonsentrasi pada segmen konsumer dan UMKM. Sedangkan pelaku usaha menengah dengan omzet puluhan hingga ratusan miliar rupiah kerap kesulitan mendapatkan layanan keuangan terintegrasi yang setara dengan perbankan korporasi, namun dengan kelincahan teknologi finansial.

Beberapa bank digital dan platform pembayaran lokal seperti BukuWarung atau Xendit memang telah menyasar segmen usaha kecil, namun belum ada yang secara eksplisit menggabungkan kredit privat, manajemen keuangan pribadi eksekutif, dan agen AI dalam satu ekosistem menyeluruh. Kehadiran solusi berbasis AI seperti Flex menunjukkan bahwa otomasi finansial tingkat lanjut tidak lagi hanya milik perusahaan raksasa, melainkan bisa merambah ke usaha menengah.

Bagi pengusaha Indonesia yang memiliki rantai pasok global, fitur Flex Global yang diluncurkan bersamaan dengan pendanaan ini sangat relevan. Layanan tersebut memanfaatkan stablecoin untuk memindahkan dana ke lebih dari 100 negara dalam hitungan menit, serta memungkinkan pemilik bisnis menyimpan 32 mata uang berbeda. Di Indonesia, kendala biaya dan waktu transaksi lintas batas masih menjadi hambatan utama eksportir dan importir skala menengah.

"Di AS, mungkin ada sekitar 350.000 hingga 400.000 pemilik bisnis yang mengelola 40 persen penggajian Amerika. Jadi, itulah segmennya," ujar Rahman dalam wawancara dengan Reuters. "Secara global, ada sekitar 3 juta pemilik bisnis yang mengelola 50 persen ekonomi dunia. Jadi, ada peluang sangat besar untuk menjadi rumah finansial tunggal bagi mereka."

Rahman menambahkan bahwa Flex saat ini telah memiliki "beberapa ribu pelanggan" yang tergabung dalam platformnya. Perusahaan mencatatkan pertumbuhan empat kali lipat secara tahunan (year-over-year) dengan tingkat pendapatan tahunan berjalan (annualized revenue run rate) menembus angka sembilan digit atau ratusan juta dolar.

Dana segar dari putaran B1 akan digunakan Flex untuk ekspansi global, peningkatan pemasaran, dan penambahan jumlah karyawan. Perusahaan berencana menggandakan lebih dari dua kali lipat kepala stafnya menjadi lebih dari 200 orang pada akhir tahun ini, dari sebelumnya 110 orang. Investor yang kembali menanamkan modal antara lain Portage Ventures dan Crosslink Capital.

Tren penggabungan layanan keuangan dan AI agen diprediksi akan semakin mendominasi lanskap fintech global. Kemampuan Flex dalam menyatukan infrastruktur pembayaran, kredit, dan analitik cerdas membuktikan bahwa masa depan perbankan bisnis tidak lagi berupa aplikasi statis, melainkan asisten virtual yang memahami denyut nadi perusahaan secara real-time.

Mengapa Ini Penting

Melonjaknya valuasi Flex menunjukkan bahwa investor global kini mengalihkan fokus dari sekadar layanan konsumer ke infrastruktur keuangan bagi usaha menengah yang selama ini terpinggirkan. Bagi Indonesia, tren ini menjadi alarm bagi perbankan lokal untuk berinovasi melayani pelaku usaha menengah dengan solusi terintegrasi berbasis AI. Kendala transaksi lintas batas menggunakan stablecoin seperti Flex Global juga relevan mengatasi mahalnya biaya transfer devisa bagi eksportir tanah air. Ke depan, startup lokal perlu mencontoh model 'rumah finansial tunggal' ini agar tidak kalah saing di era otomasi.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit