Internasional

Sunisa Lee Kembali Latih Diri, Sasaran Emas ke-3 di Los Angeles 2028

Ringkasan

  • Pebulutangkis Olimpik Sunisa Lee mengumumkan kembali ke gym dua tahun sebelum Olimpiade Los Angeles, setelah pulih dari dua penyakit ginjal yang sempat mengancam karirnya.

Sunisa Lee, juara umum olahraga gimnastik Putri Olimpiade Tokyo 2020, resmi mengumumkan kembali ke lantai latihan pada Selasa (15/7) waktu setempat. Pengumuman itu disampaikan melalui video di akun Instagramnya yang dikaption "I'm back" — dua tahun tepat sebelum pembukaan Olimpiade Los Angeles 2028. Kembalinya Lee menandai babak baru bagi atlet berusia 21 tahun yang pernah diumumkan dokter mungkin tidak bisa bersaing lagi akibat komplikasi ginjal.

Video berdurasi singkat itu menyatukan potongan-potongan momen emas di Tokyo, perjuangan pulih di ranjang sakit, hingga kemenangan tiga medali di Paris 2024. Di akhir video, teks hitam muncul: "This is more than a comeback, stay tuned." USA Gymnastics pun ikut merespons lewat akun X: "The journey continues! Welcome back." Frasa itu bukan sekadar slogan, tapi cerminan realita medis yang pernah menghadang langkahnya.

Pada awal 2023, Lee didiagnosa menderita dua jenis penyakit ginjal sekaligus — kondisi yang jarang terjadi bersamaan pada atlet muda. Gejala yang muncul drastis: tubuh bengkak parah, berat badan naik 20 kilogram dalam waktu singkat, dan kelelahan ekstrem yang memaksa dia istirahat total selama berminggu-minggu. Dokter pernah menegaskan peluangnya kembali ke level elit sangat tipis. Lee kemudian menjalani terapi imunosupresan selama lima bulan, periode di mana dia harus meninggalkan gimnastik sepenuhnya.

Kembalinya ke ajang dunia bukan hal yang instan. Lee debut kembali di klasik US Classic pada Agustus 2023, lalu mengamankan tiket Paris lewat Olympic Trials Juni 2024. Di Prancis, ia membuktikan ketangguhan dengan meraih emas beregu, perak all-around, dan perunggu uneven bars. Tiga medali itu membuatnya gimnastik wanita AS paling produktif di Paris, serta menambah koleksi jadi enam medali Olimpiadium — paling banyak dalam sejarah gimnastik AS setelah Simone Biles dan Shannon Miller.

Prestasi Lee di Paris memiliki bobot ekstra: ia bersaing dengan kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih. Efek samping obat — termasuk fluktuasi berat badan dan kelelahan kronis — tetap mengiringi latihan harian. Faktanya, Lee sering latihan terpisah dari tim untuk mengelola beban fisik. Pelatihnya, Jess Graba, mengakui program latihan disesuaikan harian berdasarkan pemeriksaan darah dan fungsi ginjal. Pendekatan personalisasi itulah yang jadi kunci keberlangsungan karirnya.

Bagi lanskap gimnastik internasional, kehadiran Lee di siklus LA 2028 mengubah dinamika kompetisi all-around wanita. Saat ini, Biles belum memastikan partisipasi, sedangkan Rebecca Andrade (Brasil) dan Qiu Qiyuan (China) terus memperkuat rutinitas. Lee, yang dikenal keunggulan di uneven bars dan balance beam, memiliki peluang realistis menargetkan podium jika kesehatan ginjal stabil. USA Gymnastics sudah menyiapkan rencana jangka panjang yang melibatkan nefrolog olahraga dan nutrisi presisi.

Di Indonesia, kisah Lee relevan sebagai referensi manajemen atlet pasca-penyakit kronis. Beberapa pelatnas cabang olahraga lain — seperti renang dan angkat besi — pernah menghadapi kasus serupa: atlet muda terhenti bertahun-tahun akibat gangguan autoimun atau infeksi pasca-viral. Kurangnya protokol medis terintegrasi antara tim dokter rumah sakit dan pelatih sering memperlama rehabilitasi. Model "tim medis terpadu" yang diterapkan Lee — nefrolog, fisioterapis, pelatih, dan psikolog sport bekerja sinkron — bisa jadi template bagi KONI dan PBSI.

Lee sendiri tidak menyembunyikan targetnya. "I know what I'm capable of," ucapnya di video pengumuman. Kalimat singkat itu mengandung keyakinan yang dibangun bukan dari keangkuhan, tapi dari bukti empiris: ia pernah jatuh ke dasar, lalu bangkit meraih emas. Dua tahun ke depan, dunia akan menyaksikan apakah "comeback" ini berkembang jadi "legacy" — atau sekadar epilog indah dari sang juara yang menolak menyerah.

Mengapa Ini Penting

Kisah Sunisa Lee bukan sekadar comeback olahraga, tapi studi kasus langka bagaimana atlet elit bisa pulih dari dua penyakit ginjal bersamaan yang berisiko fatal. Di Indonesia, di mana fasilitas medis olahraga terpusat di Jakarta dan minim di daerah, model penanganan terpadu yang dia jalani — nefrolog, pelatih, dan psikolog bekerja sama harian — jadi referensi urgensi untuk diperluas ke pelatnas cabang lain. Jika sistem medis olahraga nasional tidak siap menangani kasus autoimun atau pasca-viral pada atlet muda, Indonesia berisiko kehilangan bakat sebelum puncak karir. Lee membuktikan: penyakit kronis bukan akhir karir, kalau manajemen medis dan latihan disinkronkan sejak dini.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit