Superhuman, perusahaan teknologi yang kini semakin fokus pada pengembangan solusi berbasis kecerdasan buatan, resmi mengumumkan akuisisi terhadap GPTZero. Startup yang dikenal sebagai pionir dalam deteksi konten buatan AI ini didirikan tiga tahun lalu oleh Edward Tian, yang awalnya mengembangkan platform tersebut sebagai proyek skripsi saat masih menempuh pendidikan di Universitas Princeton.
Kesepakatan akuisisi ini tidak mengungkapkan nilai nominal transaksinya secara terbuka. Namun, Edward Tian mengungkapkan kepada media bahwa GPTZero telah berhasil mencatatkan lebih dari 19 juta pengguna terdaftar dengan pendapatan tahunan berulang atau Annual Recurring Revenue (ARR) mencapai 30 juta dolar AS. Sebelumnya, perusahaan ini juga telah menyatakan diri mencapai profitabilitas sejak tahun 2024.
Dalam perjalanannya, GPTZero didirikan oleh Edward Tian bersama rekan sekolahnya, Alex Cui, yang menjabat sebagai CTO. Perusahaan ini sempat menarik perhatian investor dengan mengumpulkan pendanaan sebesar 13,5 juta dolar AS. Putaran pendanaan tersebut mencakup seed round senilai 3,5 juta dolar AS yang dipimpin oleh Uncork Capital, serta pendanaan Seri A sebesar 10 juta dolar AS yang dipimpin oleh Nikhil Basu Trivedi dari Footwork.
Superhuman sendiri merupakan entitas yang terbentuk setelah Grammarly mengakuisisi penyedia layanan email Superhuman pada tahun lalu dan melakukan rebranding besar-besaran. Sebelum akuisisi ini, Superhuman sebenarnya telah memiliki fitur deteksi AI bawaan di dalam platformnya. Langkah akuisisi ini dipandang sebagai upaya strategis untuk memperkuat kapabilitas deteksi mereka di tengah maraknya konten buatan mesin yang sulit dibedakan oleh mata manusia.
Fokus utama GPTZero sejak awal adalah membantu pengguna dalam mendeteksi dan melakukan pertahanan terhadap konten-konten berkualitas rendah hasil buatan AI atau yang sering disebut sebagai 'AI slop'. Di sisi lain, alat deteksi milik Grammarly selama ini lebih difokuskan untuk membantu pelajar dan profesional dalam mengidentifikasi apakah tulisan mereka terdeteksi sebagai karya AI, sehingga mereka dapat melakukan revisi sebelum dipublikasikan.
Menanggapi alasan di balik pembelian kompetitornya, manajemen Superhuman menyatakan bahwa penggabungan dua teknologi deteksi AI yang berbeda akan menciptakan sistem yang jauh lebih akurat dan tangguh. Dengan mengintegrasikan teknologi GPTZero, Superhuman berkomitmen untuk memberikan standar verifikasi konten yang lebih tinggi bagi para penggunanya di masa depan.