Beirut – Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad Al-Shibani, pada Kamis (waktu setempat) menyatakan kesediaan otoritas Damaskus untuk membuka jalur dialog dengan kelompok Hizbullah dari Lebanon. Pernyataan penting ini disampaikan di Beirut, menggarisbawahi pendekatan pragmatis Suriah dalam menjalin hubungan regional.
Dalam konferensi pers setelah pertemuannya dengan Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, Al-Shibani menegaskan bahwa potensi pertemuan dengan Hizbullah akan dipertimbangkan jika hal tersebut secara jelas dapat memajukan kepentingan nasional Suriah. "Jika pertemuan dengan Hizbullah diperlukan demi kepentingan kami, maka kami terbuka untuk itu," ujar Al-Shibani, mengindikasikan bahwa kepentingan Damaskus menjadi faktor penentu utama dalam setiap inisiatif dialog.
Kunjungan resmi Menlu Suriah ke Beirut pada hari Kamis ini memiliki agenda padat. Selain bertemu dengan Ketua Parlemen Nabih Berri, Al-Shibani juga dijadwalkan untuk melakukan pertemuan dengan Presiden, Perdana Menteri, dan Menteri Luar Negeri Lebanon. Meskipun demikian, Al-Shibani menjelaskan bahwa diskusinya dengan Berri secara spesifik tidak menyentuh isu Hizbullah, melainkan lebih terfokus pada upaya memperkuat dan memperluas kerja sama bilateral antara Suriah dan Lebanon di berbagai sektor.
Pernyataan mengenai kesiapan dialog ini muncul di tengah lanskap politik regional yang kompleks. Kepemimpinan baru Suriah, yang mulai berkuasa di Damaskus pada akhir tahun 2024 (sebagaimana disebutkan dalam laporan awal), secara historis memandang Hizbullah sebagai salah satu rival politiknya. Rivalitas ini berakar kuat pada peran signifikan kelompok tersebut dalam konflik Suriah yang berkepanjangan, menciptakan ketegangan yang membayangi hubungan kedua entitas.
Salah satu episode kunci yang membentuk dinamika hubungan ini adalah keterlibatan terbuka kelompok perlawanan Syiah Lebanon itu dalam pertempuran. Pada tahun 2013, Hizbullah secara aktif berpartisipasi dalam pertempuran bersama tentara Suriah melawan berbagai kelompok bersenjata. Intervensi militer ini, meskipun membantu rezim Suriah pada saat itu, menjadi titik balik yang memicu ketegangan regional yang lebih luas dan terus memberikan dampak substansial terhadap relasi antara Damaskus dan Hizbullah hingga saat ini.
Oleh karena itu, tawaran dialog dari Suriah ini bisa diinterpretasikan sebagai langkah strategis untuk menavigasi kompleksitas geopolitik di Timur Tengah. Dengan menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas, Damaskus berupaya mencari jalur baru dalam mengelola hubungan dengan aktor-aktor regional penting seperti Hizbullah, berpotensi membuka lembaran baru dalam stabilitas kawasan atau setidaknya meredakan beberapa ketegangan yang ada. Ini menunjukkan fleksibilitas diplomatik Suriah dalam menghadapi realitas politik yang terus berkembang.