Di tengah jalan pedesaan Thailand, mobil melaju sambil membawa bayi beberapa bulan yang diamati dari pangkuan Nicha—* yang tidak menyadari bahwa hitungan mundur sudah dimulai. Segera, anak itu akan diserahkan kepada ayahnya untuk dibesarkan di Tiongkok oleh kakek-nenek yang harapan mereka untuk memiliki keluarga besar hancur oleh puluhan tahun kebijakan pengendalian populasi negara.
"Ini adalah ikatan yang dalam, sama seperti membawa dan membesarkan anak sendiri," kata Nicha kepada This Week in Asia, sambil menunjukkan video yang diambil dengan ponselnya yang memperlihatkan bayi itu tersenyum. "Seluruh keluarga saya jatuh cinta, termasuk orang tua dan anak-anak saya sendiri. Akan sangat sulit untuk melepaskan bayi ini, tapi saya harus melakukannya."
Ini adalah kali ketiga Nicha menjalani siklus kehamilan, cinta, pengasuhan, dan pemisahan yang akhirnya selalu berakhir dengan penderitaan emosional yang tiba-tiba. Bayi-bayi baru lahir di rumah sakit. Ibu pengganti di Asia Tenggara dapat dibayar hingga US$15.000 untuk membantu orang asing menjadi orang tua. Foto: Shutterstock
Bagi banyak wanita di Asia Tenggara, menjadi ibu pengganti telah menjadi sumber pendapatan yang tidak biasa di tengah terbatasnya peluang ekonomi. Nicha, seorang wanita dari keluarga petani dengan pendapatan rendah, mengatakan bahwa imbalan yang besar – yang dapat mencapai $15.000 untuk satu kehamilan – membuatnya merasa berhutang pada dirinya sendiri dan keluarganya. "Uang ini dapat mengubah hidup kita," katanya. "Ini dapat membayar sekolah anak-anak saya, memperbaiki rumah kita, dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi mereka."
Namun, di balik angka yang menggiurkan tersebut, terdapat jaringan yang rumit yang didorong oleh permintaan dari negara-negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang, di mana pembatasan fertilitas, norma budaya, atau biaya adopsi yang tinggi membuat banyak pasangan mencari alternatif. Di Tiongkok, warisan kebijakan satu anak dan keinginan untuk memiliki keluarga dengan dua anak telah menciptakan pasar yang bersedia membayar mahal untuk bayi yang lahir dari rahim wanita lain.
Secara hukum, lanskap ini sangat tidak merata. Thailand secara resmi melarang komersialisasi surrogacy melalui Undang-Undang Fertilitas tahun 2015, tetapi undang-undang tersebut tidak secara eksplisit melarang perjanjian komersial, sehingga menciptakan celah yang dimanfaatkan oleh agen-agen yang tidak diatur. Sementara itu, negara-negara tetangga seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar memiliki kerangka hukum yang jauh lebih sedikit, sehingga memudahkan praktik ini untuk berkembang tanpa pengawasan yang memadai. Di sisi lain, Tiongkok memiliki kerangka hukum yang ketat untuk adopsi domestik, yang mendorong banyak keluarga untuk menggunakan layanan surrogacy di luar negeri.
Implikasi etis dari perdagangan ini sangat besar. Kritikus berpendapat bahwa ibu pengganti sering kali berasal dari kelompok masyarakat yang rentan – perempuan dengan pendidikan rendah, pedesaan, dan berpenghasilan rendah – yang mungkin tidak sepenuhnya memahami risiko medis, psikologis, atau hukum yang mereka hadapi. Pengalaman Nicha sendiri menggambarkan ikatan emosional yang dalam yang dapat terbentuk selama kehamilan, yang membuat pemisahan menjadi lebih menyakitkan. "Ini bukan hanya transaksi komersial," katanya. "Ini adalah hidupku, darahku, dan hatiku yang aku berikan."
Di luar penderitaan pribadi, perdagangan ini menimbulkan pertanyaan tentang komodifikasi kehidupan manusia. Anak-anak yang lahir melalui surrogacy komersial sering kali memiliki dokumen identitas yang samar, yang menimbulkan kekhawatiran tentang perdagangan manusia dan eksploitasi anak. Selain itu, kurangnya regulasi yang jelas berarti bahwa banyak anak yang berisiko tidak memiliki kewarganegaraan yang stabil atau akses ke layanan kesehatan dasar.
Dari sudut pandang industri, klinik-klinik kesuburan dan agen-agen di Bangkok dan Phnom Penh telah mengubah negara-negara ini menjadi tujuan medis bagi pasangan-pasangan yang mencari bayi yang "dibuat sesuai pesanan". Pasangan-pasangan ini sering kali memanfaatkan teknologi canggih seperti pemindaian genetik dan analisis embrionik untuk memilih jenis kelamin atau sifat tertentu, sehingga meningkatkan kontroversi tentang "bayi yang dirancang". Praktik-praktik ini, meskipun menguntungkan secara ekonomi, menimbulkan pertanyaan etis tentang hak anak yang belum lahir untuk menentukan nasibnya sendiri.
Para pendukung reformasi menyerukan agar negara-negara di Asia Tenggara mengadopsi kerangka kerja yang lebih kuat dan terkoordinasi. Proposal tersebut mencakup legalisasi surrogacy altruistik (tanpa imbalan uang), penegakan peraturan yang lebih ketat terhadap agen-agen, dan pembentukan badan pengawas independen yang dapat memantau kesejahteraan ibu pengganti dan anak-anak. Negara-negara seperti India, yang sebelumnya menjadi pusat surrogacy komersial, telah bergerak menuju larangan yang lebih ketat, memberikan pelajaran bagi negara-negara tetangga untuk bertindak sebelum situasi menjadi lebih buruk.
Bagi Indonesia, perkembangan ini sangat penting. Meskipun Indonesia belum menjadi tujuan surrogacy komersial, perdebatan tentang fertilitas, migrasi tenaga kerja, dan hak reproduksi semakin meningkat. Sektor teknologi dan kesehatan di Indonesia harus memantau perkembangan ini, karena kemajuan dalam teknologi reproduksi dapat mengubah lanskap demografis regional dan memerlukan kebijakan yang responsif dan berbasis hak.
Masa depan Asia dalam hal surrogacy komersial akan bergantung pada keseimbangan antara permintaan pasar, perlindungan hak asasi manusia, dan kebutuhan untuk memastikan bahwa generasi masa depan tidak diperlakukan sebagai komoditas. Tanpa tindakan yang cepat dan terkoordinasi, siklus eksploitasi yang mahal ini akan terus berlanjut, meninggalkan bekas luka emosional yang tidak terlihat pada ibu-ibu pengganti dan anak-anak yang mereka lepaskan.
Nicha sekarang tinggal di sebuah rumah yang sederhana, sering menatap foto bayinya yang terakhir. Dia mengatakan bahwa meskipun rasa sakitnya tidak pernah hilang, dia merasa telah melakukan sesuatu yang baik bagi keluarganya. "Saya tahu bahwa saya memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak saya," katanya. "Jika saya bisa membuat perbedaan, maka apa yang saya lakukan layak."
Artikel ini mengungkap biaya emosional di balik perdagangan bayi yang menguntungkan secara finansial dan menunjukkan bahwa, di luar angka-angka dan kontrak, terdapat kehidupan manusia yang terjalin erat.
Sumber: South China Morning Post URL: https://www.scmp.com/week-asia/people/article/3360160/wombs-hire-painful-price-asias-baby-trade?utm_source=rss_feed