Internasional

Survei: Mayoritas Warga AS Skeptis terhadap Kesepakatan Damai dengan Iran

Survei: Mayoritas Warga AS Skeptis terhadap Kesepakatan Damai dengan Iran

Ringkasan

  • Sebanyak 66 persen pemilih di Amerika Serikat meragukan efektivitas kesepakatan damai dengan Iran, khawatir akan potensi ketidakstabilan baru.

Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh perusahaan riset asal Inggris, Focaldata, untuk Financial Times menunjukkan tingkat keraguan yang tinggi di kalangan masyarakat Amerika Serikat terkait nota kesepahaman antara Washington dan Teheran. Sebanyak dua pertiga atau sekitar 66 persen pemilih di Amerika Serikat menyatakan keraguan mendalam mengenai efektivitas perjanjian tersebut dalam meredam ketegangan di Timur Tengah.

Para responden yang disurvei mengungkapkan kekhawatiran bahwa nota kesepahaman ini justru berisiko memicu ketidakstabilan baru. Sebagian besar responden berpendapat bahwa alih-alih mengakhiri konflik, kesepakatan ini berpotensi memperbesar kemungkinan terjadinya eskalasi militer di masa depan, yang menunjukkan adanya gap persepsi yang lebar antara langkah diplomatik pemerintah dengan ekspektasi publik.

Dalam analisis mendalam mengenai posisi geopolitik Amerika Serikat, survei tersebut mencatat bahwa 44 persen responden merasa posisi AS di panggung dunia justru melemah pasca-konflik dengan Iran. Di sisi lain, hanya 31 persen yang beranggapan bahwa kebijakan pemerintah saat ini telah memperkuat posisi tawar Amerika Serikat di mata komunitas internasional.

Optimisme mengenai perdamaian di kawasan Timur Tengah juga tampak sangat minim. Hanya satu dari lima pemilih yang meyakini bahwa nota kesepahaman ini akan membawa dampak positif yang nyata bagi stabilitas kawasan. Hal ini mencerminkan sentimen publik yang cenderung pesimistis terhadap kemampuan diplomasi formal dalam menyelesaikan akar permasalahan yang kompleks antara kedua negara.

Survei yang dilakukan pada 26–30 Juni dengan melibatkan 1.795 responden tersebut memiliki margin kesalahan sebesar 2,7 poin persentase. Data ini mencerminkan dinamika domestik AS yang sangat dipengaruhi oleh narasi keamanan nasional, terutama setelah kedua negara menyepakati penghentian konflik militer yang sempat memanas sejak akhir Februari lalu.

Sebagai bagian dari nota kesepahaman, kedua negara telah menyusun jadwal pencabutan blokade laut dan normalisasi pelayaran di Selat Hormuz. Selain itu, Iran telah menyatakan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, dengan rencana perundingan terpisah yang akan digelar dalam kurun waktu 60 hari ke depan. Bagi Teheran, langkah ini dipandang krusial untuk membuka jalan bagi penghapusan sanksi ekonomi yang selama ini menghambat pertumbuhan ekonomi nasional mereka.

Mengapa Ini Penting

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah sering kali berdampak langsung pada volatilitas harga energi global, termasuk bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Analisis ini memberikan gambaran bagi pemangku kebijakan dan investor di Indonesia untuk lebih waspada terhadap potensi gangguan rantai pasok global akibat ketegangan yang masih membayangi kawasan tersebut.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit