Serangan udara menggunakan taktik 'double-tap' atau serangan beruntun kembali menelan korban jiwa di Gaza City pada Selasa (15/9). Seorang remaja berusia 15 tahun, Mohammad Abdul Zinati, tewas seketika saat mencoba memberikan pertolongan kepada paramedis yang menjadi target serangan awal militer Israel di lingkungan Sheikh Radwan.
Kejadian bermula ketika drone Israel melancarkan serangan pertama yang melukai Sharif Shadi Labad, seorang paramedis Pertahanan Sipil Palestina. Saat warga sekitar dan relawan bergegas menuju lokasi untuk mengevakuasi Labad yang terkapar di reruntuhan, drone tersebut kembali menjatuhkan proyektil kedua. Senjata yang diyakini sebagai bom luncur berpemandu Mikholit ini dirancang untuk memaksimalkan jumlah korban dengan menargetkan pihak yang datang untuk memberikan bantuan medis.
Mohammad Abdul Zinati, yang saat itu baru saja pulang sekolah, menjadi salah satu korban fatal dalam serangan kedua tersebut. Rekaman video yang diverifikasi menunjukkan suasana pilu di luar Rumah Sakit al-Shifa, di mana sang ayah meratapi kepergian putranya yang terbujur kaku dibalut kain kafan putih. Peristiwa ini menambah daftar panjang korban anak-anak di Gaza, yang menurut UNICEF mencapai angka lebih dari 64.000 jiwa tewas atau terluka sejak konflik memanas pada Oktober 2023.
Penggunaan prosedur double-tap bukanlah hal baru dalam operasi militer Israel. Investigasi yang dilakukan media lokal Israel, +972 Magazine dan Local Call, mengonfirmasi bahwa militer memang mengadopsi taktik ini. Tujuannya adalah memastikan target benar-benar tewas, terutama ketika serangan awal dinilai tidak cukup presisi atau ketika keberadaan target di lokasi belum terkonfirmasi secara pasti.
Situasi di Gaza saat ini kian memprihatinkan dengan sistem kesehatan yang berada di ambang keruntuhan total. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa pembatasan ketat terhadap pasokan medis dan bahan bakar oleh otoritas Israel telah melumpuhkan operasional rumah sakit. Dalam 24 jam terakhir saja, sedikitnya enam orang tewas dan 71 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terus berlangsung meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata.
Bagi masyarakat Indonesia, fenomena double-tap ini memicu diskusi serius mengenai etika perang dan penggunaan teknologi drone dalam konflik modern. Sebagai negara yang menjunjung tinggi hukum humaniter internasional, praktik penargetan tim medis dan penyelamat menjadi sorotan tajam. Indonesia secara konsisten mendesak penghentian kekerasan di Gaza, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa teknologi pertahanan seringkali disalahgunakan untuk menargetkan warga sipil yang rentan.
Secara teknis, penggunaan bom luncur berpemandu (guided glide bomb) menunjukkan eskalasi teknologi presisi yang justru digunakan untuk aksi yang melanggar konvensi internasional. Di Indonesia, perkembangan teknologi pertahanan lebih difokuskan pada penguatan kedaulatan dan mitigasi bencana, namun kesadaran akan dampak kemanusiaan dari teknologi drone tempur global menjadi pelajaran penting bagi industri pertahanan domestik untuk tetap berpegang pada prinsip kemanusiaan.
Kematian Labad dan Zinati memicu kemarahan publik, terlihat dari prosesi pemakaman yang dihadiri warga dengan membawa foto korban. Mereka menyerukan perlawanan terhadap brutalitas yang tak kunjung usai. Ketegangan ini diperparah dengan runtuhnya bangunan yang sudah rusak akibat perang di Gaza City, yang menyebabkan setidaknya 20 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak.
UNICEF melalui Direktur Regional untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, menegaskan bahwa gencatan senjata yang ada saat ini gagal melindungi anak-anak. Dengan rata-rata satu anak tewas setiap hari, masa depan generasi muda Gaza terancam musnah. Seruan kepada Dewan Keamanan PBB dan WHO untuk segera melakukan intervensi kemanusiaan pun kembali digencarkan oleh otoritas kesehatan setempat.
Ke depannya, tren penggunaan taktik ini diprediksi akan terus berlanjut selama tidak ada tekanan internasional yang substansial untuk menghentikan pasokan senjata dan dukungan taktis bagi militer Israel. Tanpa adanya pengawasan ketat terhadap penggunaan teknologi otonom dalam perang, warga sipil dan tenaga kemanusiaan akan terus menjadi tumbal dari prosedur militer yang tidak manusiawi.
Harapan untuk kedamaian tampaknya masih jauh dari jangkauan. Setiap serangan baru tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, tetapi juga menghancurkan kepercayaan terhadap protokol perang global. Dunia kini menunggu langkah nyata dari lembaga internasional sebelum lebih banyak nyawa tak berdosa melayang sia-sia di bawah bayang-bayang drone yang terus mengintai.