Sebuah laporan terbaru dari lembaga pemikir Takshashila Institution yang berbasis di Bengaluru menyoroti tantangan besar yang dihadapi industri pertahanan China dalam mempertahankan dominasi ekspor senjata global. Di tengah upaya Beijing untuk memperluas pengaruh militernya, laporan tersebut menekankan bahwa kunci keberhasilan China di masa depan mungkin bukan terletak pada perolehan kontrak baru, melainkan pada kemampuan mempertahankan basis pelanggan yang sudah ada.
Peneliti Anushka Saxena dalam laporannya memperingatkan agar tidak terjebak dalam asumsi reduktif bahwa kualitas persenjataan buatan China secara seragam buruk. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa penilaian terhadap perangkat keras militer China memerlukan analisis yang jauh lebih terpilah dan spesifik terhadap konteks teater operasi, alih-alih hanya mengandalkan narasi umum yang berkembang di media arus utama selama ini.
Meskipun beberapa sistem persenjataan China terbukti berkinerja baik dalam kondisi operasional yang menguntungkan, laporan tersebut menemukan adanya kendala persisten yang menghambat ambisi China sebagai eksportir senjata utama. Masalah keandalan teknis, ketersediaan suku cadang, dan dukungan purnajual yang kurang memadai menjadi faktor utama yang sering kali merusak reputasi China di mata negara-negara pengimpor senjata.
Persaingan di pasar senjata global diperkirakan akan semakin ketat dengan potensi kebangkitan kembali Rusia sebagai pemasok utama. Bagi China, mempertahankan loyalitas pelanggan lama menjadi sangat krusial agar tidak kehilangan pangsa pasar yang selama ini telah dibangun dengan susah payah melalui berbagai kemitraan pertahanan strategis di wilayah Asia dan Afrika.
Implikasi dari dinamika pasar senjata ini tidak hanya berdampak pada ekonomi pertahanan China, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap keamanan nasional India. Sebagai negara tetangga yang memiliki riwayat konflik, India menaruh perhatian besar terhadap bagaimana persenjataan China digunakan oleh sekutu-sekutu strategis Beijing di kawasan tersebut.
Sebagai contoh nyata, laporan tersebut merujuk pada konflik singkat antara Pakistan dan India pada Mei 2025. Dalam peristiwa tersebut, Pakistan dilaporkan sangat bergantung pada penggunaan pesawat tempur dan sistem pertahanan udara buatan China. Ketergantungan ini menggarisbawahi betapa vitalnya dukungan logistik dan keandalan sistem bagi negara pengguna dalam situasi krisis yang nyata di lapangan.