Jakarta – Prof. Dr. dr. Laksmi Wulandari, Sp.P (K), FISCM, FISR, seorang pakar onkologi paru, menyoroti berbagai kendala sistemik dalam penanganan kanker paru di Indonesia. Menurutnya, fokus penanganan saat ini masih terlalu berat pada tahap kuratif, sementara upaya promotif dan preventif masih bersifat sporadis dan belum berjalan optimal di lapangan.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah keterbatasan fasilitas skrining kanker paru yang memadai. Meskipun pedoman internasional seperti National Comprehensive Cancer Network (NCCN) telah merekomendasikan penggunaan Low-Dose CT Scan Thorax (LDCT) secara tahunan bagi kelompok berisiko tinggi, implementasinya di Indonesia masih sangat terbatas dan belum menjangkau masyarakat luas.
Selain masalah skrining, proses penegakan diagnosis juga kerap terhambat oleh minimnya jumlah ahli patologi anatomi yang terkonsentrasi di rumah sakit besar di kota-kota utama. Keterlambatan diagnosis ini berdampak langsung pada penundaan pengobatan pasien, padahal akurasi diagnosis sangat krusial dalam menentukan jenis terapi yang paling efektif bagi tipe kanker yang diderita.
Dari sisi pengobatan, inovasi medis seperti terapi target generasi ketiga belum sepenuhnya tersedia secara luas di Indonesia. Berbeda dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, maupun negara maju di Asia Timur, cakupan pembiayaan BPJS Kesehatan di tanah air saat ini masih terbatas pada terapi target generasi pertama dan kedua.
Prof. Laksmi menekankan perlunya pemerintah untuk lebih adaptif dalam menghadirkan akses terhadap obat-obatan inovatif. Pemberian terapi yang tepat sasaran pada waktu yang tepat merupakan faktor penentu utama keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup pasien kanker paru di masa depan.
Sebagai penutup, ia merekomendasikan penguatan edukasi yang melibatkan puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama agar lebih terorganisir. Selain itu, regulasi lingkungan hidup dan pengendalian tembakau perlu diperketat, serta implementasi Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2023 mengenai deteksi dini bagi kelompok berisiko tinggi harus segera diakselerasi demi menekan angka mortalitas kanker paru.