Kita hidup di era di mana para penguasa berseru menguasai narasi, sementara tanah di bawah kaki mereka bergetar—baik secara harfiah maupun metaforis. Dari Flores yang diguncang gempa M7 hingga Selat Hormuz yang diklaim Trump sebagai wilayah AS, dari janji pertumbuhan 6 persen dalam RAPBN 2027 hingga keputusan DPRD Jakarta mengikat daya dukung lingkungan untuk 30 tahun ke depan: semuanya tampak seperti upaya memasang plester pada retakan struktur yang sudah dalam.
Teater Kedaulatan: Ketika Negara Bermain God di Atas Retakan
Ringkasan
- Performansi kepastian politik—pidato jujur, janji 30 tahun, klaim teritorial, target angka—menutupi kerapuhan fundamental: gempa, korupsi jaringan, vulnerabilitas AI, dan geopolitik yang tak terkendali.
Mengapa Ini Penting
Kolom ini mengungkap pola sistemik: elite politik global dan lokal menggunakan retorik kendali untuk menutupi ketidakmampuan mengelola risiko sistemik. Pembaca perlu menyadari bahwa ketahanan nyata tidak lahir dari pidato atau perdekan, melainkan dari kapasitas institusi merespons krisis yang tumpang-tindih—seismik, siber, keuangan, dan kepercayaan publik—tanpa amnesia politik.
- Sumber Asli
- Redaksi
- Tanggal
- 15 Agustus 2026
- Waktu Baca
- 1 menit