Para insinyur teknologi 6G di China baru saja memperkenalkan sistem metasurface inovatif yang mampu mengubah permukaan bangunan, seperti dinding dan pipa, menjadi sensor multifungsi. Teknologi ini bekerja dengan cara memantulkan sinyal nirkabel layaknya cermin presisi, yang secara efektif menutupi titik-titik buta (dead spots) dalam jangkauan jaringan sekaligus memantau pergerakan manusia layaknya sistem radar.
Inovasi yang diberi nama Distributed Integrated Sensing and Communication Metasurface (DISACM) ini berhasil meraih penghargaan emas dalam ajang International Exhibition of Inventions di Jenewa yang hasilnya diumumkan secara resmi pada 14 Juni lalu. Pengembangan ini dipimpin oleh Profesor Cheng Qiang dan akademisi Cui Tiejun dari Southeast University, Nanjing, yang dikenal sebagai pelopor dalam bidang material metamaterial informasi.
Sistem DISACM menggunakan permukaan cerdas yang dapat dikonfigurasi ulang untuk mengubah cara propagasi nirkabel bekerja. Dengan kemampuan ini, jaringan tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kualitas komunikasi, tetapi juga mampu melakukan persepsi lingkungan dan koordinasi komputasi secara bersamaan. Hal ini menjadi langkah besar dalam evolusi infrastruktur jaringan di masa depan.
Dalam uji coba skenario kota pintar, para peneliti memasang 10 modul DISACM pada fasad bangunan. Hasilnya menunjukkan peningkatan daya sinyal referensi (RSRP) secara instan sebesar 10 hingga 20 desibel di area yang sebelumnya sulit dijangkau sinyal. Selain itu, sistem ini mampu mendukung kecepatan transfer data nirkabel hingga 400 megabit per detik, menjadikannya solusi efisien untuk kebutuhan data tinggi.
Selain peningkatan konektivitas, modul-modul tersebut secara simultan melakukan pemantauan lingkungan serta penghitungan kepadatan arus manusia. Teknologi ini dirancang khusus untuk mendukung standar 6G dan jaringan nirkabel masa depan yang membutuhkan integrasi antara transmisi data dan kemampuan penginderaan objek di sekitarnya.
Dalam jaringan nirkabel konvensional, dinding dan pilar seringkali menjadi hambatan fisik yang memblokir sinyal. Namun, melalui inovasi ini, permukaan tersebut justru dilapisi dengan material elektromagnetik buatan yang berfungsi sebagai kulit pintar. Transformasi ini mengubah keterbatasan infrastruktur fisik menjadi aset aktif yang mendukung kinerja jaringan secara keseluruhan.