Internasional

Tenaga Kerja Singapura Tumbuh 19 Kuartal Beruntun, PHK Ikut Meningkat

Ringkasan

  • MOM Singapura mencatat total lapangan kerja bertambah 10.700 pada kuartal II 2026, menandai pertumbuhan 19 kuartal beruntun, meski perumahan karyawan naik menjadi 4.500 orang akibat restrukturisasi bisnis.

Pasar tenaga kerja Singapura masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kementerian Tenaga Kerja (MOM) melaporkan total lapangan kerja tumbuh untuk 19 kuartal berturut-turut hingga kuartal kedua 2026, meskipun angka perumahan karyawan ikut naik.

Berdasarkan data awal yang dirilis Jumat (31/7), total lapangan kerja bertambah 10.700 pada kuartal kedua. Angka ini meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat 9.400 dan hampir sejalan dengan penambahan 10.400 pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut ditopang terutama oleh perekrutan pekerja non-residen di sektor konstruksi dan manufaktur. Adapun lapangan kerja penduduk residen tetap tumbuh, namun lajunya melambat dibanding kuartal pertama, didorong oleh perekrutan di sektor jasa esensial dan layanan publik.

Di sisi lain, tingkat pengangguran tetap rendah dan stabil. Pada Juni, tingkat pengangguran keseluruhan berada di angka 2 persen, tidak berubah dari Maret. Pengangguran residen bertahan di 2,9 persen, sementara pengangguran warga negara turun tipis dari 3,1 persen menjadi 3 persen.

Namun, jumlah perumahan karyawan pada kuartal kedua meningkat menjadi 4.500 orang, naik dari 3.830 orang pada kuartal sebelumnya. Insiden perumahan pun naik dari 1,6 menjadi 1,9 per 1.000 karyawan.

MOM menyebut peningkatan ini terkonsentrasi di sektor-sektor yang berorientasi keluar negeri dan didorong oleh restrukturisasi bisnis. Sebelumnya pada Juni, MOM mengungkapkan restrukturisasi di sektor profesional dan padat pengetahuan telah menggeser pola perumahan di kalangan pemegang gelar sarjana pada kuartal pertama.

Insiden perumahan juga meningkat di kalangan pekerja berusia 50 hingga 59 tahun, yakni dari 2,8 menjadi 3,1 per 1.000 pekerja residen. Kendati demikian, MOM menegaskan tingkat perumahan kuartal kedua masih jauh di bawah periode krisis.

Sebagai perbandingan, selama krisis keuangan global 2009, angka perumahan kuartalan berkisar antara 5.980 hingga 12.760 orang. Pada masa pandemi Covid-19, angkanya mencapai 5.640 hingga 9.120 orang per kuartal.

Bagi pekerja Indonesia yang bekerja di Singapura, kondisi ini menjadi sinyal untuk meningkatkan keterampilan. Restrukturisasi yang berulang di sektor padat pengetahuan menuntut adaptasi cepat, terutama bagi pekerja berusia di atas 50 tahun yang paling rentan terkena dampak.

MOM mencatat indikator proyeksi ke depan membaik pada Juni. Proporsi perusahaan yang berencana merekrut naik menjadi 43,9 persen dari 40,6 persen pada Mei. Ekspektasi perusahaan untuk menaikkan gaji juga meningkat menjadi 29,3 persen dari 23,7 persen, sementara yang berencana memangkas karyawan turun menjadi 2,7 persen dari 3,2 persen.

MOM menilai perbaikan ekspektasi perekrutan dan upah ini menunjukkan permintaan tenaga kerja tetap tangguh. Namun, perusahaan tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi dan restrukturisasi yang masih berjalan di sejumlah sektor.

Otoritas Moneter Singapura sebelumnya juga memperkirakan pertumbuhan perekrutan dan upah akan melambat pada 2026 akibat konflik di Timur Tengah. Karena itu, MOM mendorong perusahaan dan pekerja untuk terus meningkatkan kapasitas bersaing menghadapi perubahan teknologi yang cepat.

Pemerintah Singapura menyediakan sejumlah skema pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan, seperti program konversi karier dan Mid-Career Pathways. Para pekerja juga bisa mengikuti program pelatihan SkillsFuture atau memanfaatkan layanan konseling karier dari lembaga terkait.

Laporan lengkap pasar tenaga kerja untuk kuartal kedua akan dirilis pada pertengahan September. Selain itu, para pencari kerja yang terkena PHK di luar kehendak mereka dapat memperoleh dukungan keuangan sementara hingga S$6.000 selama enam bulan melalui skema SkillsFuture Jobseeker Support.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena Singapura adalah salah satu tujuan utama pekerja migran Indonesia dan barometer pasar tenaga kerja regional. Tren kenaikan PHK di sektor padat pengetahuan menjadi peringatan bagi pekerja Indonesia yang meniti karier di luar negeri maupun di dalam negeri, mengingat gelombang digitalisasi dan restrukturisasi juga terjadi di Indonesia. Ketahanan pasar kerja Singapura menunjukkan ekonomi Asia Tenggara masih kuat, tetapi persaingan semakin ketat dan keterampilan menjadi kunci. Skema pelatihan yang ditawarkan Singapura juga bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam merancang kebijakan perlindungan pekerja.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
31 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit