Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN secara resmi meluncurkan langkah strategis untuk meningkatkan angka kepesertaan Keluarga Berencana (KB) bagi pria di Indonesia. Saat ini, tingkat partisipasi pria dalam penggunaan kontrasepsi masih berada di angka tiga persen, sebuah angka yang dinilai masih jauh dari ideal mengingat target nasional yang dipatok mencapai empat persen.
Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) Kemendukbangga/BKKBN, Wahidin, menjelaskan bahwa program yang diberi nama 'Ayah Idaman' ini dirancang untuk mendorong suami agar lebih aktif dan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan terkait perencanaan keluarga. Inisiatif ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa beban penggunaan kontrasepsi tidak hanya bertumpu pada pihak istri, melainkan menjadi tanggung jawab bersama pasangan.
Dalam tahap awal implementasi, sebanyak 1.000 bidan praktik mandiri dilibatkan sebagai proyek percontohan. Peran bidan sangat vital karena mereka berada di garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada pasangan suami istri mengenai risiko kesehatan yang mungkin timbul akibat kehamilan yang tidak direncanakan, serta pentingnya pemilihan metode kontrasepsi yang tepat secara medis.
Data menunjukkan bahwa dari sekitar 27 juta pengguna kontrasepsi di Indonesia, pengguna metode pria masih sangat minim. Mayoritas pria hanya menggunakan kondom, dengan jumlah sekitar 900 ribu orang, sementara pengguna Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi baru mencapai 31 ribu orang. Rendahnya angka ini sering kali berkorelasi dengan kurangnya diskusi mendalam antara suami dan istri mengenai kesehatan reproduksi.
Selain melibatkan tenaga kesehatan, Kemendukbangga juga menggandeng TNI serta instansi lain yang didominasi oleh laki-laki, seperti Satpol PP dan dinas pemadam kebakaran. Strategi ini dilakukan melalui pendekatan 'getok tular' atau penyebaran informasi dari pimpinan instansi kepada seluruh anggotanya, guna menciptakan kesadaran kolektif di lingkungan kerja laki-laki.
Program Ayah Idaman tidak hanya fokus pada kontrasepsi, tetapi juga mendorong keterlibatan suami sejak trimester pertama kehamilan hingga masa pascapersalinan. Dengan keterlibatan aktif suami dalam proses diskusi dan pengambilan keputusan, diharapkan risiko penghentian kontrasepsi di tengah jalan dapat ditekan, sehingga angka kehamilan yang tidak direncanakan dapat diminimalisir secara signifikan.