Tiongkok baru-baru ini menegaskan komitmennya untuk terus mengupayakan pengurangan tarif dagang dengan Amerika Serikat. Upaya ini dilakukan demi mencapai kerja sama yang saling menguntungkan, meskipun di saat yang bersamaan Beijing tetap mengkritik keras tindakan perdagangan Washington yang dianggap merugikan dan bersifat jahat terhadap perusahaan-perusahaan asal Tiongkok.
Langkah diplomatik ini muncul hanya beberapa hari setelah Beijing memberlakukan pembatasan baru terhadap puluhan perusahaan Amerika sebagai respons atas aksi sepihak yang dilakukan oleh AS. Fenomena ini menunjukkan adanya pola kontradiktif di mana kerja sama dan konfrontasi berjalan beriringan di antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok, He Yadong, dalam konferensi pers hari Kamis menyatakan bahwa kedua belah pihak akan terus melakukan konsultasi mengenai pengurangan tarif timbal balik. Diskusi ini akan difasilitasi melalui kerangka dewan perdagangan yang baru dibentuk, dengan fokus khusus pada sektor-sektor strategis seperti penerbangan dan produk pertanian.
Selain itu, pemerintah Tiongkok dan Amerika Serikat berkomitmen untuk mendorong perusahaan domestik masing-masing agar memperkuat keterlibatan dan memperluas aktivitas perdagangan di sektor yang telah disepakati. Upaya ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi stabilitas ekonomi global yang saat ini tengah menghadapi ketidakpastian tinggi akibat perselisihan dagang.
Sebelumnya, Duta Besar Tiongkok untuk AS, Xie Feng, telah mengajukan proposal ambisius untuk meningkatkan batas nilai barang bebas tarif hingga sepuluh kali lipat. Jika disetujui, cakupan perdagangan non-sensitif di bawah dewan perdagangan tersebut akan melonjak drastisat drastis dari US$30 miliar menjadi US$300 miliar, sebuah langkah yang dianggap sebagai niat serius untuk meredakan ketegangan.
Namun, sinyal kerja sama ini masih terbentur dengan gesekan yang terus berlanjut. Beijing secara tegas menyatakan bahwa kebijakan Amerika Serikat, termasuk perluasan daftar perusahaan militer Tiongkok, telah memberikan dampak serius dan merugikan bagi entitas bisnis mereka. Dinamika tarik-ulur ini menjadi cerminan bahwa negosiasi dagang antara kedua negara akan tetap menjadi proses yang kompleks dan penuh tantangan di masa depan.