Sains

Tiongkok Capai Terobosan Baterai Nuklir Karbon-14 dengan Kemandirian Teknologi

Tiongkok Capai Terobosan Baterai Nuklir Karbon-14 dengan Kemandirian Teknologi

Ringkasan

  • Tiongkok meluncurkan baterai nuklir karbon-14 generasi terbaru yang lebih efisien, ringkas, dan sepenuhnya menggunakan teknologi domestik.

Para peneliti Tiongkok baru saja mengumumkan pencapaian signifikan dalam pengembangan teknologi baterai nuklir generasi terbaru. Baterai berbasis karbon-14 ini diklaim memiliki efisiensi yang jauh melampaui pendahulunya, sekaligus menandai langkah besar Tiongkok menuju kemandirian dalam penyediaan sumber daya energi tahan lama.

Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Northwest Normal University dengan perusahaan teknologi Gansu Zhulong Technology. Pada hari Senin lalu, mereka secara resmi memperkenalkan baterai nuklir karbon-14 beserta transduser silikon karbida (SiC) yang dikembangkan sepenuhnya menggunakan komponen dan teknologi domestik tanpa ketergantungan pada pihak asing.

Produk yang diberi nama Qianjiyuan Tianshu ini merupakan peningkatan besar dari prototipe sebelumnya, yakni Candle Dragon-I (Zhulong-1) yang diperkenalkan pada November 2024. Peningkatan ini mencakup efisiensi material radioaktif yang kini hanya menggunakan 22 persen dari jumlah sebelumnya, namun mampu meningkatkan arus hubung singkat hingga 2,5 kali lipat dan daya maksimum hingga 2,6 kali lipat.

Selain peningkatan performa, dimensi fisik perangkat ini juga mengalami penyusutan drastis hingga tersisa 17 persen dari ukuran aslinya. Hal ini menghasilkan lonjakan kepadatan daya volumetrik hingga 15,5 kali lipat, menjadikannya salah satu baterai nuklir paling ringkas dan bertenaga yang pernah dikembangkan.

Su Maogen, pemimpin tim proyek dari Northwest Normal University, menjelaskan bahwa penggunaan karbon-14 dengan waktu paruh 5.730 tahun memberikan baterai ini masa pakai teoretis hingga ribuan tahun. Dalam pernyataan resminya, ia menekankan bahwa perangkat ini mampu beroperasi secara stabil pada rentang suhu ekstrem, yakni antara minus 100 derajat hingga 200 derajat Celsius.

Ketahanan ekstrem ini menjadikan baterai tersebut sangat ideal untuk diaplikasikan pada implan medis, eksplorasi laut dalam, wilayah kutub, serta sektor pertahanan dan kedirgantaraan. Pengembangan ini menjadi bagian integral dari strategi energi baru Tiongkok untuk mengatasi kendala baterai masa lalu yang cenderung memiliki daya rendah, integrasi sulit, dan biaya produksi yang sangat tinggi.

Mengapa Ini Penting

Teknologi baterai nuklir berumur ribuan tahun ini menawarkan solusi untuk perangkat yang membutuhkan daya tahan ekstrem tanpa penggantian baterai, seperti sensor jarak jauh atau implan medis. Bagi Indonesia, adopsi teknologi serupa di masa depan dapat mendukung efisiensi operasional infrastruktur di wilayah terpencil atau proyek strategis yang sulit dijangkau untuk pemeliharaan rutin.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
7 Juli 2026
Waktu Baca
2 menit