Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, menekankan pentingnya penguatan peran balai veteriner dalam menjaga ketahanan sektor peternakan nasional. Dalam kunjungan kerjanya ke Balai Veteriner Banjarbaru, Kalimantan Selatan, ia menyoroti urgensi peningkatan kapasitas laboratorium, kualitas sumber daya manusia, serta penguatan sistem biosekuriti sebagai langkah strategis dalam mengantisipasi ancaman wabah penyakit hewan, terutama di tengah potensi dampak fenomena iklim El Nino.
Menurut Titiek, fokus utama penanganan kesehatan hewan harus bergeser dari pola kuratif menuju preventif. Ia menegaskan bahwa investasi pada peralatan laboratorium modern merupakan kunci untuk mempercepat deteksi dini penyakit. Dengan kemampuan diagnosis yang lebih cepat dan akurat, risiko penyebaran wabah yang luas dapat ditekan secara signifikan, sehingga kerugian di tingkat peternak dapat diminimalisir sejak awal.
Balai Veteriner Banjarbaru, yang telah beroperasi selama 48 tahun, memegang peran vital sebagai laboratorium rujukan regional bagi wilayah Kalimantan. Titiek mengapresiasi kontribusi lembaga ini dalam melakukan surveilans dan pengujian laboratorium. Namun, ia menekankan bahwa seiring dengan perkembangan tantangan kesehatan hewan, peningkatan sarana dan prasarana di balai tersebut harus menjadi prioritas agar tetap relevan dalam menjalankan fungsinya sebagai garda terdepan kesehatan ternak.
Selain aspek infrastruktur, Titiek menyoroti peran strategis penyuluh pertanian dan peternakan di lapangan. Ia menilai bahwa para penyuluh merupakan ujung tombak yang berhadapan langsung dengan peternak, sehingga mereka memerlukan dukungan insentif yang memadai serta pelatihan berkelanjutan. Peningkatan kapasitas SDM ini krusial agar para penyuluh mampu menyebarkan informasi terbaru mengenai teknologi kesehatan hewan kepada masyarakat secara efektif.
Dalam kesempatan tersebut, Komisi IV DPR RI menyatakan komitmen penuh untuk memberikan dukungan anggaran bagi program-program Kementerian Pertanian. Titiek membuka ruang dialog bagi instansi terkait untuk mengajukan kebutuhan tambahan anggaran, terutama jika ditujukan untuk memperkuat layanan penyuluhan maupun fasilitas kesehatan hewan. Komitmen ini diharapkan dapat mempercepat akselerasi pembangunan sektor peternakan yang lebih tangguh.
Menutup kunjungannya, Titiek menyatakan optimisme terhadap kesiapan Balai Veteriner Banjarbaru dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan. Ia menegaskan bahwa sinergi antara legislatif dan eksekutif akan terus dijaga demi memastikan kesejahteraan peternak, nelayan, dan pelaku sektor pertanian tetap terjaga, terutama dalam menghadapi dinamika iklim yang berdampak langsung pada produktivitas sektor pangan di Indonesia.