JAYAPURA – TNI berencana melakukan penambahan dan penebalan personel di sejumlah titik rawan keamanan di wilayah Papua. Langkah strategis ini diambil sebagai respons langsung atas insiden penembakan yang menimpa pilot maskapai AMA, Nicholas Goselin, di Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI Lucky Avianto, mengungkapkan bahwa saat insiden terjadi pada Kamis (2/7), lokasi tersebut memang belum memiliki pos pengamanan. Jarak tempuh dari pos terdekat menuju lokasi kejadian mencapai 40 kilometer dengan medan pegunungan yang sangat menantang.
Lucky menyebutkan bahwa evaluasi mendalam sedang dilakukan terhadap wilayah-wilayah yang menjadi jalur penerbangan perintis namun belum memiliki pengamanan memadai. Kondisi serupa sebelumnya juga terjadi pada insiden penyerangan pesawat Smart Air di Lapangan Terbang Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, pada 12 Februari lalu yang menelan korban jiwa.
Dalam upaya memperkuat deteksi dini dan perlindungan, pihak TNI menjajaki kolaborasi strategis dengan tokoh agama, termasuk Uskup Jayapura Yanuarius You. Kerja sama ini diharapkan mampu memetakan daerah prioritas yang membutuhkan kehadiran aparat keamanan demi menjamin stabilitas wilayah.
Kehadiran aparat di titik-titik krusial tersebut diharapkan tidak hanya memberikan rasa aman bagi para kru penerbangan, tetapi juga memastikan distribusi logistik dan pelayanan publik tetap berjalan lancar bagi masyarakat di daerah terpencil. Keamanan infrastruktur penerbangan menjadi kunci utama dalam menjaga konektivitas di wilayah Papua.
Sebelumnya, personel Koops TNI Habema telah berhasil mengevakuasi jenazah Nicholas Goselin pasca insiden penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB). Kejadian ini sempat memicu penutupan sementara sejumlah bandara di Papua sebagai langkah mitigasi risiko sebelum akhirnya kembali beroperasi secara bertahap.