Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) secara resmi memberikan pernyataan terkait insiden penembakan pilot berkebangsaan Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, di Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Kamis, 2 Juli 2026. Dalam insiden tersebut, selain menembak mati pilot, kelompok tersebut juga membakar pesawat milik PT AMA yang sedang dioperasikan.
Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk peringatan keras yang ditujukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amerika Serikat, dan Belanda. Menurut Sebby, negara-negara tersebut dianggap telah melanggar hukum internasional serta mengabaikan penyelesaian akar masalah politik di Tanah Papua yang telah berlangsung selama 64 tahun antara pemerintah Indonesia dan pihak TPNPB.
Lebih lanjut, Sebby menuding adanya pelanggaran terhadap berbagai instrumen hukum internasional, termasuk Pasal 73e Resolusi PBB No. 1541, Perjanjian New York 1962, dan Perjanjian Roma 1962. TPNPB menuntut PBB agar segera turun tangan menyelesaikan konflik politik di wilayah tersebut. Mereka menegaskan bahwa aksi kekerasan serupa tidak akan dihentikan selama tuntutan politik mereka tidak mendapatkan perhatian serius dari komunitas internasional.
Selain isu politik, TPNPB-OPM juga menyoroti keterlibatan pihak asing dalam eksploitasi sumber daya alam di Papua. Sebby mengklaim terdapat kesepakatan sepihak antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat terkait operasi penambangan emas PT Freeport McMoRan yang dilakukan tanpa melibatkan masyarakat lokal. Pihak TPNPB menyatakan penolakan tegas terhadap aktivitas penambangan tersebut di wilayah mereka.
Akibat insiden ini, TPNPB-OPM mengeluarkan ultimatum agar seluruh aktivitas penerbangan sipil di Papua dihentikan jika diduga membawa pasukan atau logistik militer Indonesia. Mereka memperingatkan warga negara asing dan masyarakat umum untuk lebih berhati-hati guna menghindari jatuhnya korban jiwa susulan. Tindakan ini dilakukan oleh milisi TPNPB Kodap XVI Yahukimo yang berada di bawah komando Elkius Kobak.
Menanggapi situasi keamanan yang kian memanas, prajurit TNI dari Komando Operasi Habema (Koops Habema) dikabarkan telah meluncurkan operasi khusus untuk mengamankan kawasan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah Indonesia melalui Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan maupun tuduhan yang dilontarkan oleh kelompok TPNPB-OPM tersebut.