Pameran akbar Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2026 menutup rangkaian penyelenggaraannya dengan catatan gemilang. Nilai transaksi selama event berlangsung sukses menembus angka Rp8,2 triliun, melesat 12,3 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya yang berada di posisi Rp7,3 triliun.
Torehan positif tersebut tidak hanya datang dari sisi nilai belanja. Jumlah pengunjung ikut mengalami peningkatan menjadi 6,1 juta orang, naik sekitar 1,7 persen dari capaian tahun lalu yang menembus angka hampir 6 juta pengunjung.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) Provinsi DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, menilai angka tersebut bukan sekadar statistik pameran tahunan. Data itu menjadi cerminan optimisme ekonomi Ibu Kota yang tetap terjaga meski dunia tengah menghadapi berbagai tekanan makroekonomi.
Fakta ini sejalan dengan kinerja ekonomi makro Jakarta pada triwulan I 2026 yang tumbuh positif 5,59 persen secara year-on-year. Kontribusi Jakarta terhadap perekonomian nasional pun cukup dominan, mencapai 16,67 persen, yang semakin mempertegas posisinya sebagai pusat ekonomi terbesar di Tanah Air.
Penyelenggaraan JFK tahun ini juga mencatatkan skala partisipasi yang masif. Lebih dari 1.800 stan dan 2.800 peserta terlibat, termasuk ratusan pelaku UMKM serta industri dari berbagai penjuru daerah. Hal ini menunjukkan bahwa event fisik masih memegang peranan krusial dalam mendongkrak roda perekonomian lokal.
Bagi ekosistem bisnis ritel dan UMKM di Indonesia, keberhasilan JFK memberikan sinyal kuat bahwa masyarakat tidak beralih sepenuhnya ke transaksi digital. Ruang pameran fisik tetap menjadi destinasi utama untuk mencari pengalaman belanja, sekaligus ajang temu muka langsung antara produsen dan konsumen.
Dampaknya dirasakan langsung oleh para pelaku usaha mikro dan kecil yang selama ini kerap kesulitan mendapatkan akses pasar luas. Kehadiran mereka di JFK membuka peluang untuk membangun jejaring, mengenalkan produk kepada jutaan calon pembeli, serta memperoleh validasi pasar secara nyata.
Di sisi lain, tren peningkatan transaksi ini juga menjadi tolok ukur bagi pemerintah daerah lain di Indonesia. Jika Jakarta mampu menghelat pameran dengan kurasi produk yang tepat, daerah lain seperti Jawa Barat, Jawa Timur, atau Bali dapat mencontoh model kolaborasi antara pemerintah dan pelaku UMKM ini untuk mendongkrak ekonomi regional.
"Tingginya nilai transaksi dan jumlah pengunjung Jakarta Fair menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga, aktivitas perdagangan terus tumbuh, dan UMKM dapat menjadi penggerak utama ekonomi daerah," ucap Ratu di Jakarta.
Menurut Ratu, pihaknya akan menjadikan hasil positif ini sebagai pijakan strategis. Dinas PPKUKM berencana memperkuat pelibatan UMKM pada penyelenggaraan mendatang melalui proses kurasi produk yang lebih komprehensif, peningkatan kualitas kemasan, serta penguatan promosi agar produk lokal semakin kompetitif di mata konsumen modern.
Langkah konkret ke depan mencakup dorongan pertemuan bisnis antara UMKM dengan pembeli, distributor, investor, maupun mitra usaha agar tercipta kolaborasi berkelanjutan. Pembinaan pascapameran juga akan digencarkan melalui pelatihan pemasaran digital, peningkatan kapasitas usaha, fasilitasi akses pembiayaan, dan perluasan jejaring pemasaran.
Menarik untuk disimak, perhelatan Jakarta Fair tahun depan akan berpadu dengan peringatan 500 tahun Kota Jakarta. Ratu menilai momentum istimewa ini harus dimanfaatkan untuk menghadirkan pameran yang lebih besar, inovatif, dan berdampak luas, sekaligus mengukuhkan posisi UMKM sebagai pilar ekonomi kota yang inklusif dan berdaya saing global.