Selama beberapa dekade, Angkatan Udara Filipina (PAF) memfokuskan operasionalnya pada misi kontra-pemberontakan, memerangi kelompok militan Islam dan pemberontak komunis yang bersembunyi di hutan serta pulau-pulau di wilayah selatan. Namun, dinamika geopolitik yang berubah drastis memaksa militer Filipina untuk melakukan pergeseran strategi besar-besaran.
Di tengah ketegangan yang kian memanas di Laut Tiongkok Selatan, PAF kini menjalani proses transformasi untuk menjadi kekuatan pertahanan maritim yang tangguh. Meskipun analis militer sering menempatkan PAF sebagai salah satu kekuatan udara paling terbatas di antara enam militer terbesar di Asia Tenggara, langkah modernisasi kini menjadi prioritas utama negara tersebut.
Juru bicara Angkatan Udara, Kolonel Maria Christina Basco, menegaskan bahwa sebagai negara kepulauan, Filipina memiliki urgensi untuk memperkuat aset udara demi mencapai pertahanan 360 derajat. Fokus ini mencakup pengawasan wilayah udara yang luas dan perlindungan kedaulatan di seluruh perbatasan maritim negara.
Sejak tahun 2013, melalui program modernisasi yang dikenal sebagai Horizon 1, PAF secara bertahap mulai memulihkan kemampuan dasar yang sempat hilang akibat kurangnya investasi selama bertahun-tahun. Upaya ini mencakup pengadaan platform baru yang secara signifikan memperluas jangkauan operasional serta meningkatkan interoperabilitas dengan sekutu internasional.
Vincent Kyle Parada, mantan analis pertahanan untuk Angkatan Laut Filipina, menilai bahwa transisi ini sangat krusial. Menurutnya, PAF saat ini sedang berupaya meninggalkan peran tradisionalnya yang berfokus pada keamanan internal menuju peran yang lebih aktif dalam pertahanan teritorial dan pencegahan konflik di Laut Tiongkok Selatan.
Penggunaan pesawat tempur ringan seperti Super Tucano yang dulunya dirancang untuk operasi kontra-pemberontakan kini diintegrasikan ke dalam latihan bersama yang lebih luas, termasuk latihan bersama dengan Amerika Serikat. Hal ini mencerminkan adaptasi PAF dalam menghadapi tantangan keamanan regional yang menuntut kesiapan tempur lebih tinggi guna menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.