Kelompok Tani Hutan (KTH) di Desa Suka Rahmat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, telah berhasil melakukan terobosan inovatif dengan mengelola kawasan sekitar hutan lindung menjadi lahan produktif berbasis kopi liberika. Langkah ini diambil sebagai strategi utama untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa sekaligus memposisikan komoditas lokal sebagai produk unggulan daerah yang bernilai ekonomi tinggi.
Ketua KTH Agrowisata Goa Taman Buah Mandiri, Ruslan, menjelaskan bahwa pemilihan kopi sebagai tanaman utama merupakan bentuk komitmen kelompoknya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dibandingkan dengan budi daya sawit yang memerlukan pembukaan lahan masif, metode agroforestri yang diterapkan petani lokal justru memperkuat ketahanan ekosistem hutan lindung serta mencegah kerusakan lahan yang lebih luas.
Keberhasilan inisiatif ini tidak lepas dari dukungan penuh Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Santan, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur. Melalui pemberian izin legal pengelolaan perhutanan sosial yang berlaku selama 35 tahun sejak 2023, para petani kini memiliki kepastian hukum untuk mengelola lahan seluas 25 hektare secara berkelanjutan dan terukur.
Selain nilai ekonomi dari biji kopi yang kini dipasarkan dengan harga Rp30.000 per kemasan, para petani juga memanfaatkan ekosistem kebun untuk budi daya madu kelulut. Bunga dari ribuan pohon kopi menjadi sumber pakan alami lebah yang sangat efektif, sehingga menghasilkan produk sampingan berupa madu kesehatan yang dikonsumsi oleh anggota kelompok tani sebagai suplemen harian.
Sektor agrowisata di desa tersebut kini telah berkembang pesat dengan populasi sekitar 14.000 pohon kopi yang siap panen. Praktisi kopi, Slamet Prayogo, memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas biji kopi liberika dari Suka Rahmat. Menurutnya, proses pengolahan yang tepat dan kualitas ceri kopi yang terjaga membuat produk ini memiliki cita rasa yang sangat kompetitif di pasar kopi nasional.
Ke depan, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan terus berjalan untuk memperkuat rantai pasok dan daya saing produk. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang melakukan studi banding ke desa ini, model pengelolaan perhutanan sosial berbasis kopi liberika diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain sebagai solusi ekonomi hijau yang efektif dan ramah lingkungan.