Rumah Sakit Republik di Taiz, Yaman, belakangan ini mengalami lonjakan drastis jumlah pasien diabetes yang masuk ke unit gawat darurat dalam kondisi kritis. Fenomena ini dipicu oleh keputusan para pasien untuk menghentikan konsumsi obat-obatan medis yang telah diresepkan dokter demi mengikuti filosofi diet kontroversial yang sedang viral di dunia Arab, yang dikenal dengan sebutan 'el-tayebat'.
Dr. Hamza al-Qusais, kepala departemen gawat darurat rumah sakit tersebut, mengungkapkan bahwa para pasien tiba dalam kondisi kesehatan yang memburuk setelah mereka berhenti menjalani pengobatan medis standar. Pihak rumah sakit kini harus bekerja ekstra keras untuk menstabilkan kondisi para pasien yang mengalami komplikasi serius akibat pengabaian prosedur medis demi mengikuti pola makan yang tidak teruji secara klinis tersebut.
Diet el-tayebat ini dipopulerkan oleh Diaa el-Awadi, seorang mantan dokter asal Mesir yang izin praktiknya telah dicabut oleh otoritas kesehatan negaranya. El-Awadi sempat menutup dua klinik kesehatannya setelah Kementerian Kesehatan Mesir menyatakan bahwa opini medis dan diet yang ia sebarkan melalui media sosial dianggap membahayakan kesehatan masyarakat luas. Meskipun el-Awadi telah meninggal dunia pada awal tahun ini, pengaruh ajarannya justru semakin meluas melalui teori konspirasi yang beredar di internet.
Salah satu korban dari tren berbahaya ini adalah Murad al-Adimi, seorang pekerja konstruksi berusia 67 tahun. Murad telah mengidap diabetes selama lebih dari 15 tahun dan sempat percaya pada klaim el-Awadi bahwa penderita diabetes tidak memerlukan insulin atau obat kimia. Sebagai gantinya, ia dianjurkan untuk mengikuti diet ketat yang melarang konsumsi sayuran hijau, buah jeruk, telur, dan kacang-kacangan dengan iming-iming kesembuhan total.
Murad mengaku tergiur dengan diet tersebut karena alasan ekonomi, mengingat biaya pengobatan medis yang cukup mahal. Namun, keputusannya untuk berhenti meminum obat selama sepuluh hari berakhir fatal ketika ia jatuh pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Pengalaman pahit ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat akan bahaya mengikuti nasihat kesehatan yang tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Para profesional medis di Yaman menekankan bahwa tindakan menghentikan pengobatan diabetes tanpa pengawasan dokter adalah langkah yang sangat berisiko bagi nyawa. Mereka menghimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh tren kesehatan yang viral di media sosial, terutama jika informasi tersebut bertentangan dengan rekomendasi medis resmi. Kasus di Taiz ini menjadi pengingat global akan pentingnya literasi kesehatan di era diseminasi informasi digital yang cepat.