Presiden Amerika Serikat Donald Trump dipastikan menyaksikan pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina secara langsung di MetLife Stadium, New Jersey, pada Minggu (19/7) sore waktu setempat. Kehadiran tersebut dikonfirmasi oleh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam konferensi pers pada Kamis (16/7).
Leavitt menyatakan Trump akan bertolak ke New York pada Jumat untuk menghadiri resepsi Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) di Trump Tower, Manhattan. Setelahnya, kepala negara Republik itu akan menuju stadion guna menyaksikan duel pamungkas antara juara bertahan Argentina dan Spanyol. "Kami menantikan pertandingan final di hari Minggu, dan saya tahu presiden sangat menantikan untuk hadir," ujar Leavitt.
Agenda ini melanjutkan tradisi kepala negara tuan rumah yang hadir di partai puncak turnamen sepak bola empat tahunan. Pada edisi 2022 di Qatar, Emir Tamim bin Hamad Al Thani mendampingi Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkan trofi kepada kapten Argentina, Lionel Messi. Penguasa Qatar bahkan sempat mengenakan bisht, jubah tradisional, kepada Messi sebelum trofi diangkat. Empat tahun sebelumnya di Rusia, Presiden Vladimir Putin turut memberikan medali kepada pemain Prancis yang keluar sebagai juara.
Kehadiran Trump di final Piala Dunia 2026 menyusul partisipasinya dalam perayaan pasca-pertandingan final Piala Dunia Antarklub tahun lalu di stadion yang sama. Saat itu, ia menuai sorotan karena tetap berada di podium setelah trofi diserahkan kepada pemain Chelsea. Trump berdiri di samping kapten Reece James ketika piala diangkat untuk pertama kalinya. Infantino sebelumnya menyebut Trump akan menyerahkan trofi juara, namun Leavitt tidak memastikan hal tersebut dan prediksi menyebut presiden tidak akan melakukannya.
Sebagai tuan rumah bersama dengan Kanada dan Meksiko, Amerika Serikat memiliki kepentingan representasi politik yang tinggi dalam gelaran akbar ini. Tim nasional AS sendiri berhasil melaju ke babak 16 besar, namun Trump tidak hadir di pertandingan mana pun selama fase grup hingga knock-out. Ketidakhadiran itu memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi dukungan pemerintah terhadap tim lokal di ajang yang mereka selenggarakan.
Bagi pembaca Indonesia, peristiwa ini menyoroti hubungan erat antara politik dan sepak bola di level global. Presiden Joko Widodo pernah hadir dalam pembukaan Piala Dunia U-17 di Indonesia pada 2023, menunjukkan bahwa kepala negara kerap menggunakan ajang olahraga sebagai instrumen diplomasi. Namun, tradisi penyerahan trofi oleh presiden tuan rumah belum menjadi kebiasaan mutlak di turnamen yang digelar di tanah air.
Dampaknya melampaui sekadar simbolis. Kehadiran presiden AS di final berpotensi menaikkan rating siaran dan nilai komersial pertandingan, termasuk bagi pemegang hak tayang di Indonesia. Televisi dan platform streaming lokal biasanya menayangkan Piala Dunia dengan iklan premium, sehingga sorotan politik global ikut mendongkrak minat penonton domestik.
Aspek keamanan juga menjadi perhatian. Kunjungan presiden AS ke New Jersey dan Manhattan akan melibatkan protokol rapat yang bisa mengganggu mobilitas publik. Hal serupa terjadi saat kunjungan kepala negara asing ke Indonesia untuk event olahraga, di mana rekayasa lalu lintas diterapkan demi kelancaran delegasi.
Leavitt menegaskan bahwa Gedung Putih fokus pada penyambutan tamu internasional di resepsi FIFA. "Diikuti dengan kehadirannya pada hari Minggu di Piala Dunia FIFA antara Spanyol dan Argentina," kata dia merujuk agenda Trump. Pernyataan itu sekaligus menepis spekulasi bahwa presiden akan absen di partai puncak.
Infantino memang sempat mengisyaratkan peran Trump dalam penyerahan piala, namun sejarah menunjukkan hal itu bergantung pada protokol tuan rumah. Di Piala Dunia 2014 Brasil dan 2010 Afrika Selatan, kepala negara setempat hadir namun tidak selalu memegang trofi utama. Variasi ini mencerminkan fleksibilitas tradisi FIFA.
Ke depan, final Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung where olahraga dan politik bertemu di depan miliaran penonton. Partisipasi Trump diperkirakan memperkuat citra AS sebagai tuan rumah yang aktif, meski kontroversi podium Chelsea masih membekas di ingatan publik. Tren kepala negara hadir di final diprediksi berlanjut pada edisi 2030 yang akan digelar di tiga benua.
Bagi Indonesia, ajang ini menjadi pelajaran mengenai standar penyelenggaraan dan representasi negara dalam event internasional. Pengalaman tuan rumah Piala Dunia U-17 dapat dikembangkan, termasuk keterlibatan pemimpin secara strategis tanpa mengganggu independensi olahraga. Langkah ke depan bergantung pada kesiapan infrastruktur dan diplomasi olahraga nasional.