Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan optimisme bahwa perundingan damai dengan Iran dapat segera membuahkan hasil setelah kedua belah pihak menghentikan serangan selama tiga hari berturut-turut, namun klaim itu langsung dibantah keras oleh Teheran.
Dalam pernyataannya di atas pesawat Air Force One, Trump mengatakan bahwa ia memiliki kesabaran dan melihat adanya peluang besar bagi tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir lima bulan. Penghentian serangan sejak Jumat (24/7) itu terjadi setelah 13 malam berturut-turut Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran, menyusul kegagalan diplomasi terkait blokade Iran di Selat Hormuz.
"Saya memiliki banyak kesabaran. Kita lihat saja apa yang terjadi," kata Trump. "Saya pikir ada peluang bagus bahwa sesuatu dapat terjadi," imbuhnya.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dengan tegas membantah adanya negosiasi langsung antara kedua negara. Menurutnya, mediator mungkin menyampaikan pesan dari pihak Amerika, tetapi saat ini Iran tidak terlibat dalam perundingan apa pun dengan AS.
Sementara itu, Trump bersikukuh bahwa dialog tengah berlangsung. Ia juga menyebut jika upaya ini gagal lagi, "kita akan kembali melakukan apa yang kita lakukan."
Ketegangan antara AS dan Iran dimulai pada awal tahun ini setelah Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis pengangkutan minyak dunia. Upaya diplomasi gagal dan Washington melancarkan operasi militer besar-besaran yang berlangsung selama hampir lima bulan, mengguncang stabilitas kawasan dan perekonomian global.
Eskalasi konflik membuat harga minyak mentah dunia meroket, memicu inflasi di banyak negara. Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, terkena dampak langsung dari kenaikan harga energi dan biaya logistik. Pemerintah Indonesia terpaksa menyesuaikan subsidi BBM dan mengalokasikan anggaran tambahan untuk menjaga daya beli masyarakat.
Menteri Luar Negeri RI beberapa kali menyerukan penghentian permusuhan dan pentingnya stabilitas kawasan bagi pemulihan ekonomi. Indonesia juga mendorong penyelesaian damai melalui jalur diplomasi.
Di sisi lain, Trump menepis kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan amunisi AS. "Kami memiliki banyak amunisi. Kami juga memiliki banyak amunisi kelas menengah, lebih dari yang bisa kami gunakan, apa pun yang terjadi," katanya. Pernyataan ini sekaligus memberi sinyal bahwa AS masih memiliki kapasitas untuk melanjutkan pertempuran jika perundingan gagal.
Sikap Trump yang optimistis dan Iran yang membantah menciptakan ketidakpastian. Sejumlah analis menilai pernyataan Trump bisa jadi merupakan bagian dari tekanan politik menjelang pemilu AS. Iran, di sisi lain, ingin menunjukkan ke publik bahwa mereka tidak tunduk pada tekanan Amerika.
Bagi Indonesia, situasi ini menuntut kewaspadaan. Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya subsidi energi. Pemerintah perlu menyiapkan skenario antisipasi jika konflik kembali memanas, termasuk diversifikasi pasokan energi dan memperkuat diplomasi ekonomi.
Belum ada tanda-tanda bahwa gencatan senjata saat ini akan segera berkembang menjadi perundingan formal. Trump tampaknya ingin membangun narasi bahwa kesepakatan sudah dekat, sementara Iran memilih menjaga jarak. Perbedaan narasi ini menandakan diplomasi masih jauh dari kata mulus.
Ke depan, perkembangan di Timur Tengah akan sangat bergantung pada langkah nyata kedua belah pihak, apakah gencatan senjata ini hanya jeda sementara atau awal dari de-eskalasi yang permanen. Dunia, termasuk Indonesia, berharap suara diplomasi lebih keras daripada gemuruh senjata.