Jakarta — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kecaman keras terhadap Iran. Kali ini, ia menyebut kepemimpinan Teheran "sangat bermuka dua" karena membantah tengah bernegosiasi dengan Washington, padahal menurutnya pembicaraan telah dimulai. Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada Senin (3/8), menanggapi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran yang hanya mengakui adanya pembicaraan dengan Oman.
Trump menegaskan bahwa blokade militer AS di Selat Hormuz akan terus berlanjut sampai Iran mencapai 'kesepakatan atau penyerahan total'. Ia mengeklaim bahwa Iran justru yang meminta pertemuan, bahkan ada yang menyebutnya 'memohon', dengan jadwal pertemuan lanjutan yang sudah diatur. Namun, di saat yang sama, Teheran secara terbuka mengatakan tidak ada pembicaraan apa pun.
"Entah Iran mau mengakuinya atau tidak, kami sebenarnya sedang membicarakan solusi atas masalah yang telah mereka timbulkan selama puluhan tahun," tulis Trump dalam unggahannya tersebut. Pernyataan ini muncul setelah Iran secara resmi membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS, sebuah langkah yang langsung memicu reaksi keras dari Gedung Putih.
Kronologi ketegangan ini bermula dari pernyataan Trump sebelumnya yang mengklaim bahwa negosiasi akan berlangsung ketika ia membatalkan rencana serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada akhir pekan. Menurut Trump, keputusan pembatalan itu diambil setelah mendapat permintaan dari sejumlah negara di kawasan dan juga dari Teheran sendiri.
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin (3/8) menyatakan bahwa satu-satunya pembicaraan yang sedang berlangsung adalah dengan Oman, terkait rencana pembagian kendali atas Selat Hormuz. Iran menegaskan tidak ada komunikasi langsung dengan Washington, sebuah pernyataan yang langsung diserang balik oleh Trump.
Trump juga menanggapi pernyataan Iran soal kendali atas Selat Hormuz. Ia mengeklaim bahwa selat tersebut 'sudah sepenuhnya dikendalikan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat' melalui blokade yang ia sebut sebagai 'Tembok Baja Amerika Serikat'. Tidak ada apa pun yang dapat melewati selat menuju Iran, kecuali jika AS mengizinkannya.
"Mereka kemudian kembali melontarkan omong kosong seperti biasanya dengan mengatakan bahwa Selat Hormuz akan mereka kendalikan dengan kuat, padahal selat tersebut sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Angkatan Laut AS melalui 'Blokade' kami," kata Trump.
Ketegangan ini terjadi di tengah perang yang dilancarkan AS bersama Israel terhadap Iran sejak 28 Februari. Tujuan awal serangan itu mencakup penghancuran industri nuklir dan rudal Iran, serta mendorong pemberontakan rakyat untuk menggulingkan pemerintah. Namun, lebih dari lima bulan berlalu, Iran masih mampu meluncurkan rudal dan drone ke sasaran-sasaran militer AS dan sekutunya di kawasan. Iran juga masih memiliki persediaan uranium yang telah diperkaya.
Dampak dari serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz telah memberikan tekanan besar terhadap perdagangan energi global. Hal ini memberi Teheran nilai tawar baru yang kuat dalam menghadapi Washington, sekaligus menciptakan ketegangan yang berkepanjangan di kawasan.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi yang signifikan mengingat Indonesia adalah negara pengimpor minyak yang bergantung pada jalur pengiriman melalui Selat Hormuz. Ketidakstabilan di selat tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia dan mengganggu pasokan energi domestik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia perlu mencermati perkembangan ini untuk mengantisipasi dampak terhadap anggaran dan harga BBM di dalam negeri.
Selain itu, sikap tegas Trump yang menginginkan 'penyerahan total' Iran menunjukkan bahwa konflik ini tidak akan cepat selesai. Diplomasi yang gagal dan blokade yang terus berlanjut berpotensi memperpanjang ketidakpastian global, termasuk bagi stabilitas keamanan di Asia Tenggara. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia juga perlu memperhatikan risiko eskalasi yang dapat memicu ketegangan di dalam negeri.
Para pengamat hubungan internasional menilai bahwa posisi Iran yang terus menyerang kapal di Selat Hormuz merupakan strategi untuk mempertahankan daya tawar di tengah tekanan militer yang kuat. Meskipun AS mengklaim telah menguasai selat tersebut, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Iran masih mampu meluncurkan serangan, yang berarti blokade tersebut tidak sepenuhnya efektif.
Ke depannya, jalan buntu ini masih belum menunjukkan titik terang. Trump mengisyaratkan tidak akan menghentikan blokade sampai Iran menyerah atau mencapai kesepakatan, sementara Teheran terus menolak untuk bernegosiasi secara langsung. Dengan demikian, konflik ini akan terus menjadi sorotan utama dunia, dan Indonesia perlu bersiap menghadapi potensi dampak ekonomi dan geopolitik yang lebih luas.
Sementara itu, peran Oman sebagai perantara antara Iran dan AS menjadi sangat penting. Pembicaraan yang tengah berlangsung antara Iran dan Oman terkait Selat Hormuz bisa menjadi pintu masuk untuk meredakan ketegangan, meski Trump tampaknya tidak mengakui jalur ini sebagai negosiasi resmi. Langkah selanjutnya dari kedua belah pihak akan menentukan arah konflik yang telah berlangsung lebih dari lima bulan ini.