Internasional

Trump Sebut Netanyahu Penipu Lalu Berubah Pikiran soal Serangan Iran

Ringkasan

  • Buku terbaru Maggie Haberman mengungkap Donald Trump pernah memaki Benjamin Netanyahu hingga menyebutnya penipu, sebelum akhirnya setuju mendukung serangan Israel ke Iran setelah pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih.

Hubungan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu ternyata jauh lebih rumit dibalik kemesraan yang ditampilkan di hadapan kamera. Menurut cuplikan buku "Regime Change" karya wartawan senior New York Times, Maggie Haberman, yang dimuat CNN pada 19 Juni lalu, presiden AS pernah mencak-mencak terhadap perdana mentri Israel di bulan-bulan pertamanya kembali menjabat di awal 2025. Trump mengecap Netanyahu sebagai "penipu" — salah satu penghinaan terburuk dalam kosakata pribadi sang presiden — setelah Netanyahu mendesak AS ikut melancarkan serangan militer terhadap Iran.

Penolakan Trump awalnya tegas. Ia menolak mentah-mentah permintaan Netanyahu, mengingat risiko perang yang bisa menghancurkan presidenya sendiri. Komentator politik Tucker Carlson, dekat dengan Trump, justru memperingatkan bahwa perang melawan Iran akan menjadi "satu-satunya hal yang bisa menghancurkan" Trump. Namun dinamika berubah drastis pada Februari ketika Trump menggelar pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih bersama Netanyahu dan pejabat tinggi kedua negara. Presentasi Israel berhasil meluluhkan hati Trump, yang akhirnya berubah pikiran dan menyetujui partisipasi AS dalam rencana perang.

Peristiwa ini mengungkap sisi transaksional dan emosional dalam diplomasi Trump. Beliau tidak terikat pada doktrin keamanan nasional konvensional, melainkan mudah terpengaruh presentasi visual dan naratif dramatis. Netanyahu — yang dikenal mahir memanipulasi opini publik AS — memanfaatkan kelemahan ini dengan mempersiapkan briefing yang menargetkan sisi emosional Trump, bukan sekadar argumen strategis kering.

Di sisi lain, buku Haberman juga merekam reaksi Trump terhadap operasi sabotase pager Hezbollah di Lebanon pada September 2024. Trump menceritakan detail grafis luka korban — alat kelamin terputus, tangan teramputasi, hingga korban yang "tampak seperti digigit hiu putih besar" — kepada Elon Musk dan Carlson di Oval Office. Ia berulang kali mengucapkan "ini mengerikan, ini mengerikan" sambil mengakui kekaguman atas "sifat tanpa pandang bulu" dan "kecerobohan" serangan tersebut.

Kaguman Trump pada operasi pager mencerminkan apresiasinya pada taktik kekerasan yang spektakuler dan tak terduga, meski melanggar hukum humaniter internasional. Sikap ini sejalan dengan preferensi Trump pada demonstrasi kekuatan mentah dibanding diplomasi multilateral. Bagi Netanyahu, pemahaman ini menjadi modal: ia tahu Trump akan mendukung tindakan Israel selama dikemas sebagai aksi keberanian dan kekejaman yang "efektif".

Dinamika ini berdampak signifikan pada stabilitas Timur Tengah. Ketika presiden AS mudah berubah pikiran setelah pertemuan tunggal, kebijakan luar negeri AS menjadi tidak terduga. Mitra seperti Arab Saudi, Qatar, dan Mesir — yang bergantung pada jaminan keamanan AS — kini menghadapi ketidakpastian: apakah Trump akan mendukung eskalasi Israel berikutnya, atau justru menarik dukungan karena alasan politik domestik?

Bagi Indonesia, ketidakstabilan Timur Tengah berimbas langsung pada harga energi dan keamanan TKI. Escalasi perang Iran-Israel berpotensi menutup Selat Hormuz, rute 20% pasokan minyak dunia. Kenaikan harga BBM akan menggerakkan inflasi domestik, sementara ribuan pekerja migran Indonesia di negara-negara Teluk berisiko terevakuasi mendadak. Pemerintah harus memperkuat kontingensi evakuasi dan diversifikasi impor energi.

Hubungan Trump-Netanyahu juga menawarkan pelajaran bagi diplomasi Indonesia. Kekuatan naratif visual dan emosional — bukan sekadar nota diplomatik kering — menentukan keputusan pemimpin transaksional. Saat menghadapi negara dengan gaya kepemimpinan serupa, Indonesia perlu menyiapkan presentasi yang menargetkan sisi emosional dan citra kekuatan, sekaligus mempertahankan posisi bebas aktif.

Haberman, yang meliputi Trump sejak kampanye 2016, menggambarkan pola ini sebagai ciri khas: Trump membenci merasa ditipu, namun mudah terpikat pada demonstrasi kekuatan brutal. Netanyahu, yang sudah berdekade menguasai politik AS melalui lobby pro-Israel, memahami celah ini dengan sempurna. Buku "Regime Change" dijadwalkan terbit penuh pada musim gugur 2025, menjanjikan detail lebih lanjut tentang bagaimana dinamika pribadi dua pemimpin ini membentuk geopolitik global.

Masa depan hubungan keduanya tetap terbuka. Tekanan domestik di Israel — demonstrasi massal menuntut Netanyahu mundur, investigasi korupsi berlanjut — bisa melemahkan posisi perdana mentri. Sementara Trump menghadapi tekanan basis pemilih yang anti-perang. Jika Netanyahu gagal mengirim "kemenangan cepat" di Iran, Trump bisa kembali mencak-mencak dan menarik dukungan — mengulang siklus kemarahan dan rekonsiliasi yang sudah menjadi ciri khas hubungan mereka.

Mengapa Ini Penting

Artikel ini mengungkap bagaimana keputusan perang dan damai di Timur Tengah bisa ditentukan oleh dinamika pribadi dua pemimpin transaksional, bukan kalkulasi strategis murni. Bagi Indonesia, ketidakstabilan ini berujung pada fluktuasi harga energi global yang langsung menggerakkan inflasi domestik dan mengancam keselamatan ribuan TKI di wilayah Teluk. Pemahaman bahwa diplomasi modern kini dipengaruhi naratif visual dan emosional — bukan sekadar nota resmi — menjadi pelajaran krusial bagi kebijakan luar negeri Indonesia di era ketidakpastian geopolitik.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
29 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit