Desa Tirilbasa di Chaibasa, Jharkhand, India menggelar turnamen sepak bola unik dengan hadiah kambing khas budaya suku Ho. Kejuaraan Rangila Star Tirilbasa edisi kelima berlangsung 14-17 Juli 2024, diikuti 64 tim dari desa-desa sekitar dengan total hadiah uang tunai dan puluhan ekor kambing jantan (khassi).
Final dimenangkan NCS Maudi atas Kumbaram 1-0, tepat dua hari sebelum Spanyol mengalahkan Argentina di final Piala Dunia FIFA di New York. Tim juara pulang membawa Rp3,1 juta (15.000 rupee) dan tiga ekor khassi, sementara runner-up mendapat Rp2,5 juta dan dua ekor. Posisi ketiga dan keempat masing-masing menerima satu ekor khassi beserta hadiah uang.
Kapten NCS Maudi, Sachin Devam, mengaku harus menyewa bajaj untuk mengangkut hadiah ternak ke desanya yang berjarak 10 kilometer. "Ini kemenangan pertama tim kami, akan kami rayakan bersama warga desa dalam pesta khassi," ucapnya tersenyum lebar. Tradisi makan bersama daging kambing memang jadi ritual wajib pasca-kemenangan di komunitas Ho.
Suku Ho, populasinya sedikit lebih dari satu juta jiwa, tergolong kelompok Austroasiatik yang mendiami wilayah Kolhan. Bagi mereka, khassi bukan sekadar hewan ternak melainkan simbol keutuhan acara adat. "Tanpa khassi, pernikahan pun terasa अधूरा ( अधूरा artinya tidak lengkap dalam bahasa Hindi)," tutur Raj Keshri, kiper sekaligus panitia dari tim Tirilbasa. Daging kambing dibagikan ke seluruh warga sebagai bentuk solidaritas.
Harga khassi di pasar mingguan Chaibasa mencapai Rp1,6 juta (8.000 rupee) per ekor anak kambing. Manish Kudada, pemain muda sekaligus panitia, masih menyimpan khassi hitam hadiah turnamen Februari lalu — meskipun teman-temannya bercanda kambing itu dipelihara untuk pesta besar nanti. Nilai budaya khassi melampaui nilai ekonominya.
Format turnamen ini disengaja dikembangkan dari aturan FIFA standar. Setiap tim hanya sembilan pemain, minimal enam orang harus berasal dari desa yang sama — kebijakan "ek munda" yang menguatkan identitas kolektif. Aturan offside dihapus, gol boleh dicetak dari mana saja. Komentator Suvir Kumar Tanti mengakui modifikasi ini membuka peluang bagi pemain desa yang tak pernah lolos turnamen terbuka yang didominasi pemain berpengalaman.
Sistem tata kelola Munda-Manki suku Ho, di mana kepala desa waris memegang otoritas adat di atas sistem panchayat pemerintah, menjadi landasan organisasi turnamen. Panitia mengundang wasit bersertifikat asosiasi sepak bola negara bagian untuk menghindari kekerasan di lapangan, tapi sisi budaya dijaga ketat. Ini contoh langka di mana olahraga modern diadaptasi ke kerangka adat tanpa kehilangan esensinya.
Di Indonesia, fenomena serupa terlihat di turnamen antar dusun di Papua, Toraja, atau NTT di hadiahnya berupa sapi, babi, atau hasil pertanian. Sepak bola desa ("sepak bola kampung") di Jawa dan Sumatera juga sering menawarkan hadiah beras, minyak goreng, hingga motor. Budaya "gotong royong" lewat olahraga jadi benang merah yang menyatukan komunitas pedesaan di kedua negara.
Perbedaan mendasar: di India, hadiah ternak terintegrasi ke sistem kepercayaan dan tata kelola adat yang masih berfungsi penuh. Di Indonesia, turnamen desa sering kali terpisah dari struktur adat formal, lebih bersifat rekreatif atau politik musiman. Potensi penguatan identitas lokal lewat olahraga belum dieksplorasi maksimal oleh pemerintah desa.
"Kami mengikuti buku aturan FIFA tapi sisanya disesuaikan tradisi leluhur," jelas Manish Kudada. Pendekatan hibrid ini menawarkan model alternatif bagi pengembangan sepak bola grassroots di negara berkembang. FIFA sendiri punya program Football for Schools, tapi jarang yang mengakomodasi spesifitas budaya setara suku Ho.
Ke depan, panitia berharap turnamen ini bisa jadi template untuk liga desa se-Kolhan. Sudarshan Tiu dari Galubasa FC optimis: "Setup seperti ini memberi kesempatan kami yang dari desa kecil." Jika dikelola profesional dengan dukungan CSR pertambangan di Jharkhand, turnamen khassi ini bisa jadi produk wisata budaya olahraga unik.
Bagi Indonesia, pelajaran utamanya: jangan standarisasi olahraga grassroots hingga menghapus kearifan lokal. Hadiah sapi di turnamen Papua, atau karapan sapi di Madura yang dikombinasikan festival sepak bola, bisa jadi aset branding daerah. Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Pemda perlu melihat olahraga desa bukan cuma soal medali, tapi regenerasi budaya.