Uber telah mengubah pendekatannya terhadap kendaraan otonom dari membangun armada sendiri menjadi menjadi platform komersial yang menghubungkan penumpang dengan berbagai operator, baik manusia maupun robot. CEO Dara Khosrowshahi menyatakan pada tahun 2024 bahwa perusahaan ingin menjadi "platform utama untuk semua pemain AV di dunia." Sejak saat itu, Uber menandatangani perjanjian dengan lebih dari 25 pemain robotaxi besar, termasuk Waymo, Nuro, Baidu, dan MOIA milik Volkswagen, yang layanannya kini tersedia atau akan segera tersedia melalui aplikasi Uber di beberapa kota besar global.
Namun, strategi Uber tidak hanya berhenti pada kemitraan. Menurut dokumen yang dilihat oleh WIRED dan catatan publik lainnya, Uber kini melobi untuk mengubah pendekatan ini menjadi undang-undang. Perusahaan mendesak pembuat kebijakan untuk mengadopsi apa yang disebut "jaringan hibrida," di mana pengemudi manusia bekerja bersama robot saat teknologi baru ini berkembang. Di New Jersey, seorang lobbyist Uber bahkan mengajukan rancangan undang-undang yang akan mewajibkan platform layanan ride-hailing tanpa pengemudi untuk menggunakan pengemudi manusia pada 85 persen perjalanan selama tiga tahun.
Rancangan undang-undang ini, yang diajukan kepada Senator Andrew Zwicker, akan secara efektif mencegah pengembang kendaraan otonom seperti Waymo, Zoox, dan Tesla mengoperasikan aplikasi ride-hailing mereka sendiri di negara bagian tersebut. Hal ini memaksa mereka untuk bermitra dengan aplikasi ride-hailing lain jika ingin masuk ke pasar, sehingga mengurangi persaingan bagi Uber sebagai pemimpin pasar. RUU New Jersey juga menjadi yang pertama di AS yang membatasi operasi robotaxi Tesla karena mewajibkan penggunaan sensor multi-modal, bukan hanya kamera, serta mempertahankan setir dan pedal rem untuk situasi darurat—spesifikasi yang tidak dimiliki oleh robotaxi buatan Zoox.
Di Washington, DC, Uber juga berupaya memastikan bahwa "jaringan hibrida" menjadi masa depan ride-hailing. Seorang lobbyist Uber, LáVita Gardner, berterima kasih kepada staf anggota Dewan Charles Allen karena mendukung partisipasi perusahaan ride-hailing dalam program kendaraan otonom DC. Dalam email yang diperoleh WIRED, Gardner menekankan bahwa jaringan hibrida "sangat penting untuk transisi yang lancar yang mendukung baik teknologi maupun pengemudi manusia." RUU DC, yang akan didengar dalam sidang pada Senin, belum diajukan untuk pemungutan suara.
Di sisi lain, Uber menyatakan bahwa mereka mendukung perluasan teknologi kendaraan otonom, tetapi mengusulkan agar kebijakan industri AV lebih "dapat diterapkan." Juru bicara Uber, Noah Edwardsen, mengatakan bahwa proposal saat ini gagal mengatasi masalah tenaga kerja atau berusaha "menciptakan monopoli yang merugikan persaingan." Ia menyebut kegagalan regulasi AV di beberapa negara bagian, termasuk Maryland dan New York, sebagai bukti bahwa pendekatan baru diperlukan.
Waymo, mitra bisnis Uber yang menyediakan akses eksklusif ke layanan ride-hailing tanpa pengemudi di Atlanta dan Austin, menanggapi bahwa mereka tidak mendukung upaya untuk membatasi AV pada jenis jaringan tertentu. Juru bicara Waymo, Ethan Teicher, mengatakan perusahaan menyambut perubahan yang menjelaskan bahwa berbagai jenis jaringan dapat beroperasi.
Namun, hubungan antara kedua perusahaan tampaknya semakin tegang. Pada akhir April, CTO Uber, Praveen Neppalli, memposting video yang menyebutnya sebagai "momen menakutkan Waymo" setelah kendaraan otonom Waymo hampir menabrak bus umum. Kemitraan pilot terbatas di Phoenix dihentikan bulan lalu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran penting tentang bagaimana kebijakan dapat membentuk lanskap mobilitas masa depan. Dengan pertumbuhan pesat layanan ride-hailing di negara ini, pertimbangan terhadap jaringan hibrida, perlindungan tenaga kerja, dan persaingan adil menjadi krusial untuk menghindari monopoli dan memastikan adopsi teknologi yang inklusif. Pengambil kebijakan di Indonesia perlu memantau dinamika ini untuk merancang regulasi yang seimbang antara inovasi dan kepentingan masyarakat.
Ke depan, strategi Uber menunjukkan pergeseran dari dominasi teknologi murni menuju model berbasis platform yang dapat mengakomodasi berbagai pemain. Hal ini dapat menjadi inspirasi bagi perusahaan teknologi Indonesia untuk berkolaborasi daripada bersaing secara eksklusif, sekaligus menjadi peringatan tentang risiko lobi yang dapat membatasi persaingan dan menghambat kemajuan teknologi.