Internasional

UEFA dan CONCACAF Serang Infantino Usai FIFA Cabut Rencana Investasi Swasta Piala Dunia

Ringkasan

  • Presiden FIFA Gianni Infantino mundur dari rencana investasi swasta bernilai miliaran dolar untuk Piala Dunia setelah tekanan keras dari UEFA dan CONCACAF yang menilai kepemimpinannya gagal transparan.

Presiden FIFA Gianni Infantino resmi menarik kembali proposal kontroversial yang memungkinkan investor swasta menguasai komersial Piala Dunia, Sabtu (1/8) lalu. Keputusan itu datang hanya dalam hitungan hari setelah rencana itu bocor pada Selasa dan memicu ledakan amarah dari badan-badan pengelola sepak bola benua utama, yang mengancam boikot turnamen FIFA jika rencana itu dilanjutkan.

Meskipun mundur, Infantino justru menghadapi tekanan politik yang lebih berat. UEFA dalam pernyataan resmi menyatakan kepercayaan mereka terhadap kepemimpinan Infantino telah hilang, menyebut proses pengambilan keputusan itu sebagai "kesepakatan gelap, di ruangan tertutup, dan tidak transparan". CONCACAF yang mencakup ketiga tuan rumah Piala Dunia 2026 — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — bahkan lebih tajam, menuntut "perhitungan menyeluruh terhadap presidensi ini" dan menilai Infantino menunjukkan "tata kelola dan kepemimpinan yang buruk".

Latar belakang rencana ini bermula dari keinginan FIFA mendirikan anak perusahaan komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Entitas ini divaluekan sebesar 20 miliar dolar AS dan diproyeksikan mampu mengumpulkan dana hingga 4,2 miliar dolar. Jika disetujui, FIFA berjanji setiap dari 211 asosiasi anggota akan menerima pembayaran sekali gus sebesar 20 juta dolar awal 2027, serta peningkatan alokasi dana siklus 2027-2030 dari 8 juta menjadi 20 juta dolar per asosiasi.

Namun, angka-angka menggiurkan itu justru memicu kecurigaan. UEFA menuding Infantino melanggar janji saat kampanye pertamanya pada 2016: transparansi dan bahwa uang FIFA adalah "uang asosiasi, bukan uang Presiden FIFA". Badan Eropa itu juga menyoroti cadangan FIFA yang sudah melebihi 5 miliar dolar, bertanya mengapa dana itu tidak langsung dialokasikan untuk pengembangan sepak bola tanpa melibatkan investor asing.

Kritik tidak hanya datang dari Eropa dan Amerika Utara. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang mewakili 47 negara anggota mendesak FIFA mengikuti prosedur yang benar. Setiap inisiatif yang berdampak global harus "disajikan dan didiskusikan dengan Konfederasi, Dewan FIFA, Asosiasi Anggota, dan pemangku kepentingan lain secara tepat waktu, transparan, dan bermakna". Football Association (FA) Inggris menuntut tinjauan menyeluruh terhadap tata kelola FIFA, sedangkan DFB Jerman menuntut pergantian budaya fundamental di Zurich.

Di sisi lain, Infantino masih mendapat dukungan dari Presiden Federasi Maroko, Fouzi Lekjaa, yang memuji keputusan mundur itu sebagai langkah "bijak" demi "persatuan dan kohesi". Lekjaa menegaskan dukungannya penuh untuk Infantino dalam "semua inisiatif pengembangan sepak bola dunia". Namun, dukungan minoritas ini terlihat tipis di tengah gelombang protes mayoritas.

Dalam pernyataan penarikan, Infantino mengakui proyek itu menciptakan "perpecahan yang tidak lagi sesuai dengan tujuan awal". Ia berjanji akan fokus memulihkan harmoni sambil terus mengembangkan sepak bola. Namun, observator menilai kerusakan citra sudah terjadi. Infantino yang berharap direvisi untuk periode terakhir tahun depan kini harus berhadapan dengan legitimasi kepemimpinannya yang tergerus.

Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini mengingatkan betapa rapuhnya tata kelola global ketika keputusan besar diambil tanpa konsultasi yang memadai. PSSI sebagai anggota AFC turut terpengaruh oleh kebijakan redistribusi dana FIFA Forward. Jika skema investasi swasta itu berjalan, aliran dana ke asosiasi negara berkembang seperti Indonesia bisa berubah struktur — namun risiko kehilangan otonomi komersial dan transparansi justru lebih besar.

Lebih jauh, episode ini memicu diskusi ulang soal reformasi FIFA di era modern. Tekanan dari UEFA, CONCACAF, AFC, FA, dan DFB menunjukkan pergeseran kekuatan: konfederasi benua tidak lagi pasif menerima kebijakan top-down dari Zurich. Mereka menuntut akuntabilitas, proses demokratis, dan pembagian kekuasaan yang lebih adil. Ini adalah sinyal bahwa era Infantino — yang ditandai ekspansi turnamen seperti Club World Cup dan Piala Dunia 48 tim — memasuki ujian terberat.

Ke depan, mata dunia sepak bola akan mengawasi langkah Infantino memulihkan kepercayaan. Kongres FIFA mendatang akan menjadi panggung kritis: apakah ia mampu meyakinkan mayoritas asosiasi bahwa tata kelola akan benar-benar diperbaiki, atau justru akan menghadapi tantangan serius untuk kursi presidennya. Satu hal pasti, kepercayaan yang hilang butuh waktu lama untuk dibangun kembali.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini bukan sekadar mundurnya satu proposal, melainkan titik balik legitimasi kepemimpinan Infantino. Bagi Indonesia, aliran dana FIFA Forward yang mencapai puluhan juta dolar per siklus sangat vital untuk pengembangan grassroots dan infrastruktur. Jika tata kelola FIFA tetap opak, PSSI dan AFC kesulitan memastikan dana tersebut terealisasi dengan transparan. Lebih jauh, perang kekuatan antar konfederasi ini menentukan arah reformasi sepak bola global — apakah akan menuju model yang lebih demokratis atau justru dikendalikan oleh blok-blok kepentingan komersial besar. Kepercayaan yang hilang butuh waktu lama untuk dibangun kembali.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
1 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit