UEFA, badan pengurus sepak bola Eropa, pada Sabtu (14/12) mengeluarkan pernyataan tajam yang menuding Gianni Infantino gagal menepati janji transparansi sejak dipilih jadi presiden FIFA 2016. Pernyataan itu datang beberapa jam setelah Infantino mundur dari rencana mendirikan anak perusahaan komersial — FIFA Forward Enterprise (FFE) — yang akan menjual saham minoritas pada investor eksternal untuk mengelola turnamen utama seperti Piala Dunia.
Rencana itu bocor ke media Selasa lalu dan segera memicu ledakan amarah. UEFA menggelar rapat darurat Kamis dan memutuskan akan memboykot Piala Dunia jika proposal dilanjutkan. CONCACAF yang mengurus Amerika Utara, Tengah, dan Karibia pun menolak keras, begitu pula AFC Asia yang menyatakan solidaritas. Tekanan kolektif itu memaksa Infantino mundur pada Jumat, mengakui proposal tidak lagi dilanjutkan.
Dalam pernyayaan 1.200 kata itu, UEFA tidak berbelit-belit: "Kepemimpinan FIFA saat ini tidak hanya kehilangan kepercayaan UEFA, tapi juga banyak anggota keluarga sepak bola lain." Badan itu mengutip pidato Infantino 2016: "Uang FIFA adalah uang kalian, bukan uang presiden FIFA." UEFA menilai, janji itu dilanggar lewat "kesepakatan suram, ruang tertutup, tidak transparan" yang disusun diam-diam.
Latar belakang rencana ini adalah keinginan FIFA memperluas pendapatan. Dokumen 25 halaman dari bank investasi JP Morgan memproyeksikan perluasan turnamen bisa naikkan pembayaran per asosiasi anggota jadi 24 juta euro (sekitar Rp 410 miliar) per tahun. Namun mekanismenya — menciptakan entitas komersial terpisah dengan investor swasta — dinilai menjual "perak keluarga" dan mengancam integritas kompetisi.
Kevin Lamour, Chief Operating Officer FIFA, mengaku administrasi sendiri "tertipu" soal proyek ini. Carlos Cordeiro, penasehat senior Infantino untuk strategi global, mengundurkan diri hari Jumat, menyebut proposal "kesepakatan buruk untuk sepak bola" yang akan "menggadaikan masa depan sepak bola". Mundurnya figur dekat Infantino memperparah kerusakan citra.
Krisis ini meledak hanya tiga bulan sebelum Kongres FIFA Maret 2026 di Doha, di mana Infantino mencalonkan diri untuk periode keempat. Statuta FIFA membatasi presiden maksimal tiga periode, tapi periode pertamanya (2016-2019) dianggap tidak dihitung karena menggantikan Sepp Blatter di tengah jalan. Para kritikus menilai interpretasi ini sudah memanjakan batas.
Dampaknya melampaui Zurich. Football Association (FA) Inggris mendukung posisi UEFA, menuntut "tinjauan penuh dan ketat terhadap kepemimpinan dan tata kelola FIFA". Andy Burnham, Perdana Menteri Inggris, bahkan menyatakan Infantino "orang salah" memimpin FIFA. Di Asia, AFC meski lebih halus bahasa, jelas menolak rencana dan menuntut reformasi tata kelola.
Bagi sepak bola Indonesia, krisis ini relevan karena PSSI sebagai anggota FIFA dan AFC turut terpengaruh kebijakan distribusi dana FIFA Forward. Jika kepercayaan ke sekretariat Zurich terus erosi, program bantuan pengembangan akar rumput — yang jadi andalan banyak asosiasi Asia Tenggara — bisa terganggu. PSSI belum mengeluarkan sikap resmi, tapi tekanan reformasi tata kelola global pasti akan jadi agenda pertemuan AFC mendatang.
Analis menilai, mundurnya rencana FFE bukan akhir cerita. UEFA menegaskan: "Proposal sudah pergi. Tugas membangun kembali kepercayaan ke FIFA baru saja dimulai." Badan Eropa akan merancang mekanisme baru dengan konfederasi lain agar hal serupa tak terulang, termasuk mendorong distribusi dana lewat program FIFA Forward yang sudah ada — tanpa melibatkan investor swasta.
Infantino yang pernah dijuluki "presiden reformasi" kini hadapi ujian paling berat karirnya. Aliannya di CONCACAF mulai retak, AFC menarik jarak, dan UEFA — blok paling kaya dan berkuasa — menyatakan perang terbuka. Apakah ia tetap maju di Kongres Maret, dan apakah 211 asosiasi anggota masih memberinya mandat, akan jadi momen menentukan arah sepak bola dunia tahun depan.