Kolom Umum

Di Ujung Kekacauan Global, Kita Berlindung di Balik Ritual dan Aturan

Ringkasan

  • Pekan ini memperlihatkan polarisasi tajam: elit global bergerak pragmatis dan culas, sementara masyarakat biasa bertahan lewat olahraga dan ritual demi meraih ilusi kendali.

Menurut saya, pekan ini memperlihatkan sebuah polarisasi psikologis manusia yang semakin mencolok. Di satu sisi, para raksasa politik dan teknologi global bergerak dengan pragmatisme dingin yang nyaris tak terbendung; di sisi lain, masyarakat biasa—baik di Jakarta, Cianjur, maupun Buenos Aires—berusaha merebut kembali kendali atas nasib lewat aturan main olahraga dan ritual kepercayaan. Kita sedang hidup di era di mana kepastian hanya bisa ditemukan di lapangan hijau atau dalam kemasan takhayul modern.

Lihatlah bagaimana elit global membentuk realitas mereka sendiri. Donald Trump membayar ganti rugi pelecehan seksual kepada E. Jean Carroll, namun di saat yang sama ia dengan gesit membatalkan rencana tarif Selat Hormuz untuk diganti kesepakatan investasi Teluk. Ini bukan sekadar diplomasi; ini adalah manipulasi narasi di mana kekalahan hukum dipagari oleh kemenangan ekonomi. Hal serupa terjadi di Silicon Valley. Hakim di San Jose membatalkan gugatan ribuan korban konten asusila anak terhadap Apple dengan dalih perlindungan hukum bagi platform. Di ruang angkasa, Amerika dan Rusia tetap meluncurkan astronaut bersama ke ISS di tengah perang Ukraina. Kerja sama antariksa ini adalah fasad rasionalitas yang menutupi kekacauan diplomasi darat.

Sementara itu, di tingkat lokal, kita menyaksikan kerentanan struktural yang tak kunjung usai. Gempa Magnitudo 6,2 di Sangihe dan tewasnya warga Cianjur tertabrak kereta di Haurwangi adalah pengingat bahwa infrastruktur dan mitigasi kita masih berjarak dari kata memadai. Ketika KAI Daop 2 harus mengimbau warga menjauhi rel, itu adalah pengakuan implisit bahwa ruang publik kita belum sepenuhnya aman. DPR meluncurkan anotasi KUHAP untuk memangkas multi tafsir, tapi pertanyaannya: apakah buku bisa menahan bias aparat di lapangan? Dan ketika Menteri Pertanian menyerahkan bantuan Rp1 miliar untuk masjid di Aceh, kita melihat pola paternalistik di mana warga harus menunggu uluran tangan elit untuk bangkit dari bencana.

Di tengah kebingungan ini, olahraga dan ritual menjadi pelarian psikologis. Vitality menekuk Brasil 2-0 di ajang MLBB putri, Lazio dan Brighton berburu bek baru di pasar transfer, dan Wimbledon memamerkan sisi kompetitif di balik tradisi kaku. Olahraga menawarkan sesuatu yang tidak bisa ditawarkan oleh politik atau bencana: aturan yang jelas dan hasil yang bisa diukur. Namun, ketika fans Argentina membekukan nama Harry Kane di freezer sebagai cabalas menjelang semifinal Piala Dunia—lengkap dengan polesan citra AI—kita melihat batas antara olahraga dan takhayul semakin kabur. Mereka tidak percaya sepenuhnya pada skill timnya; mereka butuh jimat.

Ini fenomena menarik. Di era super AI yang mendongkrak pendanaan Wall Street, manusia justru kembali ke perilaku magis. Kita menggunakan AI bukan untuk memecahkan masalah iklim atau sosial, tapi untuk mempercantik ritual kuno meminta keberuntungan. Sebaliknya, teknologi justru melindungi korporasi raksasa dari tanggung jawab moral, sebagaimana vonis Apple kemarin. Ada ketimpangan di mana sistem melindungi yang kuat dan mengabaikan yang lemah, memaksa yang terakhir mencari penghiburan pada nama beku dan skor pertandingan.

Ke mana arah ini melangkah? Saya khawatir, jika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik terus mendominasi, masyarakat akan semakin menarik diri ke dalam gelembung hiburan dan ritual. Olahraga esports seperti MLBB akan terus tumbuh sebagai pelampiasan nasionalisme yang aman, sementara politikus akan terus menggunakan bantuan sosial sebagai alat redaman krisis. Fenomena transfer pemain seperti Lazio dan Brighton juga menunjukkan bahwa industri olahraga tetap berputar sebagai ekonomi paralel yang tak terusik oleh derita publik.

Namun, kita tidak boleh terjebak dalam ilusi kendali ini. Kita harus menuntut agar 'aturan main' di ruang publik—seperti anotasi KUHAP atau mitigasi bencana di Sangihe dan Cianjur—ditegakkan dengan nyata, bukan sekadar jargon atau imbauan pasca-tragedi. Dunia mungkin sedang dipimpin oleh mereka yang memanipulasi tarif dan menghindari tuntutan hukum, tapi kita yang hidup di pinggiran rel dan pesisir gempa harus membangun kepastian sendiri. Pada akhirnya, pelarian ke Wimbledon atau freezer cabalas boleh jadi pereda stres, tapi tidak akan menggantikan keadilan yang nyata dan perlindungan negara yang bermartabat.

Mengapa Ini Penting

Perspektif ini penting agar pembaca tidak terjebak dalam narasi permukaan bahwa olahraga dan bantuan sosial adalah solusi utama atas krisis struktural. Ke depan, ketimpangan antara perlindungan hukum bagi korporasi raksasa dan kerentanan warga biasa akan semakin melebar jika tidak dikritisi. Kolom ini mendorong kesadaran bahwa ritual dan hiburan hanya pereda stres sementara, bukan pengganti keadilan sistemik yang nyata.

Sumber Asli
Redaksi
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit