Bisnis & Startup

Unhas Raih Izin Edar BPOM bagi 15 Produk Inovasi Dosen

Ringkasan

  • Universitas Hasanuddin resmi memperoleh izin edar BPOM untuk 15 produk inovasi dosen, mempercepat hilirisasi riset dan membuka peluang pasar baru di Sulawesi Selatan.

Makassar – Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menorehkan catatan gemilang dalam ekosistem riset dan inovasi nasional. Kampus merah di Sulawesi Selatan tersebut resmi mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia untuk 15 produk inovasi yang dihasilkan oleh para dosen penelitinya. Pencapaian ini bukan sekadar administratif, melainkan pintu masuk bagi karya ilmiah untuk bertransformasi menjadi barang konsumsi yang aman, legal, dan bernilai ekonomi di pasar bebas.

Izin edar BPOM merupakan legitimasi tertinggi bagi produk pangan olahan, suplemen, hingga obat tradisional untuk diperdagangkan secara luas kepada masyarakat. Selama bertahun-tahun, salah satu hambatan utama bagi perguruan tinggi dalam melakukan hilirisasi riset adalah panjangnya prosedur regulasi dan ketatnya standar keamanan pangan. Dengan terbitnya sertifikat ini, Unhas membuktikan bahwa produk akademik dapat memenuhi standardisasi nasional sekaligus siap bersaing di industri.

Rektor Unhas, Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, menyatakan bahwa capaian tersebut menjadi langkah strategis dalam mempercepat hilirisasi riset agar dapat diproduksi, dipasarkan, dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Menurutnya, keberhasilan penelitian tidak cukup diukur dari jumlah publikasi internasional atau hak paten semata, tetapi justru dari manfaat nyata yang dirasakan konsumen melalui produk yang teruji keamanannya. “Izin edar selama ini menjadi kendala utama hasil riset masuk pasar, kini kami membukanya,” tegas Jamaluddin dalam acara di Makassar, Minggu.

Untuk memperluas dampaknya, Unhas menargetkan sekitar 200 produk inovasi lainnya memperoleh izin serupa sepanjang tahun ini. Ambisi tersebut mencerminkan pergeseran paradigma di lingkungan kampus dari sekadar mengejar indeks publikasi menuju kontribusi nyata terhadap perekonomian daerah. Dosen-dosen Unhas didorong untuk mengembangkan riset terapan yang berakar pada potensi lokal seperti kelapa, rumput laut, dan aren.

Ke-15 produk yang telah bersertifikat meliputi roti, Virgin Coconut Oil (VCO), minyak kelapa, gula aren cair, gula aren kubus, gula aren serbuk, sarabba, aneka olahan rumput laut, serta minuman Ginger Creamy. Ragam ini tidak dipilih secara kebetulan. Sulawesi Selatan memiliki ketersediaan bahan baku melimpah, mulai dari perkebunan kelapa dan aren hingga budidaya rumput laut di pesisir. Pengolahan bernilai tambah seperti VCO dan gula aren serbuk memungkinkan umur simpan lebih panjang serta akses pasar modern.

Kepala Balai Besar POM Makassar, Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan, menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha menjadi krusial agar temuan laboratorium tidak berhenti sebagai prototipe. Sinergi model Academia, Business, Government (ABG) yang diusung dalam kegiatan Akselerasi Kolaborasi ABG di Makassar merupakan wadah penyerahan sertifikat sekaligus penyatuan visi untuk menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru.

Sementara itu, Kepala BPOM RI, Prof dr Taruna Ikrar, menambahkan bahwa institusinya saat ini berperan tidak hanya sebagai regulator pengawas, tetapi juga mitra strategis dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional. Dukungan regulasi sejak tahap awal riset diharapkan memangkas waktu dari laboratorium ke rak ritel. Apabila ekosistem ini matang, produk hasil riset perguruan tinggi berpeluang menembus pasar nasional hingga global, sejalan dengan agenda kemandirian pangan dan kesehatan.

Dari perspektif ekonomi makro, langkah Unhas memiliki implikasi luas bagi percepatan transformasi ekonomi berbasis pengetahuan di Indonesia timur. Selama ini, kontribusi perguruan tinggi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) melalui komersialisasi riset masih minim bila dibandingkan dengan negara maju. Dengan adanya jalur percepatan izin, multiplier effect berupa tumbuhnya usaha mikro kecil menengah (UMKM) pendamping dapat terwujud, terutama di sektor pangan olahan.

Tantangan ke depan tetap ada. Memperoleh izin edar hanyalah tahap awal; pelaku industri harus menjaga konsistensi mutu, kapasitas produksi, dan manajemen rantai pasok. Diperlukan pendampingan lanjutan dari BPOM dan kementerian terkait agar 15 produk awal serta 200 target berikutnya tidak mengalami stagnasi saat menghadapi persaingan pasar bebas. Aspek perlindungan kekayaan intelektual juga wajib dikuatkan agar tidak terjadi pembajakan formula.

Penyerahan sertifikat pada forum ABG tersebut menjadi simbol bahwa hilirisasi riset adalah tanggung jawab bersama. Unhas menunjukkan bahwa universitas di daerah bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal, asalkan regulasi dan bisnis berpihak. Ke depan, diharapkan banyak perguruan tinggi lain di Indonesia mencontoh model ini untuk mewujudkan kemandirian industri pangan dan produk inovatif nasional.

Mengapa Ini Penting

Kemandirian pangan lokal menjadi krusial di tengah fluktuasi rantai pasok global, sehingga regulasi yang mendukung hilirisasi riset perguruan tinggi dapat memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Keberhasilan Unhas menunjukkan bahwa sinergi ABG dapat menjadi templat nasional untuk mempercepat komersialisasi inovasi, khususnya bagi startup sains di wilayah timur Indonesia. Jika dibiakkan secara masif, pendekatan ini berpotensi menciptakan lapisan UMKM teknologi pangan yang tangguh serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar internasional.

Sumber Asli
ANTARA
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit