Internasional

Uni Eropa Bersikap Tegas Terhadap Tiongkok di Tengah Kekhawatiran Deindustrialisasi

Uni Eropa Bersikap Tegas Terhadap Tiongkok di Tengah Kekhawatiran Deindustrialisasi

Ringkasan

  • Uni Eropa mulai mengambil langkah tegas terhadap Tiongkok akibat neraca perdagangan yang timpang dan ancaman deindustrialisasi di kawasan tersebut.

Ketegangan hubungan dagang antara Uni Eropa (UE) dan Tiongkok mencapai titik krusial menyusul pertemuan diplomatik di Brussels antara Komisaris Perdagangan UE, Maros Sefcovic, dan Menteri Perdagangan Tiongkok, Wang Wentao. Meskipun pertemuan berlangsung dalam suasana formal, Sefcovic menyampaikan pesan yang sangat jelas bahwa pola perdagangan saat ini tidak lagi dapat dipertahankan. Ketimpangan neraca dagang yang terus melebar menjadi pemicu utama kegelisahan para pemimpin Eropa.

Sefcovic menegaskan bahwa tren di mana ekspor Tiongkok ke Eropa terus melonjak sementara pangsa pasar perusahaan Eropa di Tiongkok justru menyusut adalah kondisi yang tidak berkelanjutan. Status quo dianggap bukan lagi sebuah opsi bagi blok tersebut. Hal ini menandai pergeseran drastis dari posisi Eropa yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung perdagangan bebas dan penyeimbang proteksionisme Amerika Serikat di era Presiden Donald Trump.

Dominasi perusahaan Tiongkok di pasar Eropa, yang didukung oleh subsidi industri masif dan skala ekonomi yang luar biasa, kini dianggap sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan industri domestik Eropa. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, bahkan secara terbuka menyebut fenomena ini sebagai 'China shock' baru yang mengguncang stabilitas ekonomi kawasan tersebut. Kekhawatiran akan deindustrialisasi memaksa para pemimpin Eropa untuk segera mengambil langkah protektif.

Data menunjukkan bahwa surplus perdagangan Tiongkok dengan Uni Eropa mencapai 360,6 miliar euro pada tahun 2025, meningkat 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini setara dengan 1 miliar euro per hari, sebuah rekor yang menunjukkan betapa dalam ketergantungan Eropa terhadap barang-barang asal Tiongkok. Sektor-sektor strategis seperti panel surya, bahan kimia, robotika industri, hingga logam tanah jarang kini dikuasai oleh pemain asal Tiongkok.

Industri otomotif Eropa, yang selama ini menjadi kebanggaan kawasan, juga menghadapi tekanan hebat di rumah sendiri. Meski Uni Eropa telah menerapkan tarif hingga 35,3 persen untuk kendaraan listrik asal Tiongkok, merek-merek seperti BYD, Geely, dan Chery tetap menunjukkan pertumbuhan yang eksponensial. Pada bulan Mei lalu, pangsa pasar mobil asal Tiongkok di Eropa bahkan menembus angka 10 persen dari total penjualan untuk pertama kalinya.

Para analis, termasuk Philippe Le Corre dari ESSEC Business School, menilai bahwa sikap tegas Uni Eropa adalah kenormalan baru. Eropa kini menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi sekadar menunggu kompromi antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Blok ini mulai merumuskan kebijakan mandiri yang lebih agresif untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka dari banjir produk impor yang tidak kompetitif secara adil, demi menjaga lapangan kerja dan basis manufaktur di benua tersebut.

Mengapa Ini Penting

Perang dagang antara blok ekonomi besar seperti UE dan Tiongkok dapat memicu pergeseran rantai pasok global yang berdampak pada harga komoditas dan barang manufaktur di Indonesia. Indonesia perlu mewaspadai potensi banjir produk impor murah dari Tiongkok yang tidak terserap di pasar Eropa, yang dapat mengancam daya saing industri dalam negeri.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
30 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit