Max Verstappen dan Red Bull memutuskan menggunakan sayap belakang konvensional pada Grand Prix Belgia di Spa-Francorchamps, Minggu (20/7), menyusul dua insiden kecelakaan berkecepatan tinggi yang dialami pebalap Belanda itu di Austria dan Inggris. Keputusan diambil setelah sayap belakang tipe baru dianggap tidak aman karena kehilangan downforce saat memasuki tikungan.
Verstappen menilai perilaku sayap belakang anyar tersebut sangat berbahaya. Ia nyaris cedera parah dalam dua balapan sebelumnya. Di Silverstone, ia kehilangan kendali saat mengejar posisi ketiga karena sayap tidak menempel sempurna saat berbelok.
Red Bull awalnya mengadopsi desain sayap belakang inovatif yang dijuluki 'Macarena'. Sayap ini memiliki flap atas yang berputar 180 derajat saat mobil melaju lurus, guna memangkas drag dan menambah kecepatan top speed. Ferrari lebih dulu memunculkan konsep serupa, sementara McLaren juga mulai bereksperimen dengan teknologi yang mendekati desain tersebut.
Namun, pengujian pasca-Grand Prix Inggris menemukan masalah pada komponen tersebut. Laurent Mekies, bos tim Red Bull, mengungkapkan temuan itu kepada BBC. Tim langsung mengambil langkah mitigasi dengan mengganti sayap di mobil Verstappen menjelang sesi di Spa.
Kecelakaan di Austria dan Silverstone menjadi alarm bagi Red Bull. Verstappen menyebut dirinya beruntung bisa selamat dua kali. Ia menekankan bahwa keselamatan pebalap harus diutamakan ketimbang sekadar mengejar performa aerodinamis sesaat.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, kabar ini relevan karena komunitas pecinta balapan semakin besar. Siaran F1 resmi bisa diakses melalui platform streaming berlangganan di tanah air. Teknologi sayap aktif seperti 'Macarena' kerap menjadi bahan diskusi teknik di grup-grup penggemar lokal yang mengikuti perkembangan tim pabrikan.
Di Indonesia, inovasi aerodinamika level F1 belum tersentuh oleh kendaraan konsumsi harian. Namun, riset performa dan keamanan komponen kendaraan mendapat dampak tidak langsung. Produsen mobil nasional dan bengkel modifikasi biasanya mempelajari tren balap sebagai acuan pengembangan sistem pendingin dan stabilisasi lintasan lurus.
Rekan setim Verstappen, Isack Hadjar, tidak mengalami masalah serupa pada sayap baru. Pebalap Prancis itu berharap komponen yang ditarik bisa segera dipakai lagi. Ia mengaku beruntung tidak mendapat insiden dalam dua seri terakhir.
"Kami akan kembali ke sayap lama dan melihat kapan versi terbaru siap dipakai," ucap Verstappen di Spa, Kamis (17/7). Ia menambahkan bahwa hilangnya downforce saat memasuki tikungan membuat mobil spin keluar lintasan.
Spa-Francorchamps merupakan sirkuit favorit sekaligus hampir seperti balapan kandang bagi Verstappen yang lahir di Belgia. Ia sudah menang di sana tiga kali. Namun, dengan Red Bull berada di posisi keempat klasemen, ia enggan memprediksi hasil akhir pekan ini.
"Kita lihat besok. Saya tidak tahu bagaimana performa kami. Lebih baik tidak terlalu memikirkannya dan langsung keluar lintasan," kata pebalap 28 tahun tersebut. Langkah kembali ke sayap lama menjadi strategi pragmatis sambil menunggu penyempurnaan desain baru yang gagal dalam uji coba internal.
Ke depan, Red Bull dipastikan tidak akan memaksakan sayap 'Macarena' sebelum masalah keamanan tuntas. Persaingan aerodinamika dengan Ferrari dan McLaren akan tetap ketat. Pengembangan komponen aktif diprediksi beralih ke arah pengujian simulasi yang lebih ketat demi mencegah insiden serupa terulang di paruh kedua musim.