Vietnam menampilkan dominasi penuh sejak menit pertama di Stadion Chonburi. Tim asuhan Kim Sang-sik hanya membutuhkan tujuh menit untuk membuka keunggulan melalui Do Hoang Hen, striker kelahiran Brasil yang dinaturalisasi. Gol awal itu memecah kebuntuan dan mengantarkan Vietnam ke kontrol penuh atas tempo pertandingan.
Nguyen Dinh Bac menjadi bintang utama laga ini dengan mencetak tiga gol. Gol pertamanya datang di menit ke-31 melalui tendangan melengkung indah ke sudut bawah gawang Dylan Niski. Sebelum istirahat, Dinh Bac mencetak gol keduanya, sementara Do Hoang Hen dan Nguyen Xuan Son masing-masing menambahkan satu gol, membawa keunggulan Vietnam menjadi 5-0 di babak pertama.
Babak kedua berlangsung dengan skenario serupa. Vietnam terus menekan meskipun sudah aman. Di menit ke-65, Dinh Bac melengkapi hat-trick-nya setelah mengubah umpan silang Bui Hoang Viet Anh. Gol terakhir datang dari kesalahan pertahanan Timor-Leste, Liam Farrugia, yang memasukkan bola ke gawang sendiri saat mencoba mengamankan bola.
Kemenangan besar ini menegaskan status Vietnam sebagai tim terkuat Asia Tenggara saat ini. Di bawah era Kim Sang-sik, Timnas Vietnam memadukan disiplin taktik Korea Selatan dengan kecepatan dan kreativitas pemain lokal. Naturalisasi pemain seperti Do Hoang Hen memberikan dimensi baru pada lini depan yang sudah handal.
Sementara itu, Timor-Leste tampak kewalahan menghadapi tekanan tinggi Vietnam. Tim Leste hanya mampu bertahan di awal laga sebelum fisik dan konsentrasi mereka drop drastis. Kekurangan pengalaman bermain di level kompetisi ini terlihat jelas pada lini pertahanan yang sering kali terbuka lebar.
Hasil lain di Grup B menunjukkan dinamika yang berbeda. Singapore harus berjuang keras untuk mengalahkan Kambuja 2-1 di Phnom Penh. Gol pembuka Shawal Anuar di menit ke-22 dibalas Ouk Sovann di menit ke-55. Kemenangan Singapura baru teramatkan di menit ke-100 melalui aksi akrobatik Ilhan Fandi yang memanfaatkan umpan Song Ui-young.
Kemenangan Vietnam dengan selisih gol besar memberikan keuntungan psikologis dan matematis di klasemen grup. Selisih gol +7 hampir memastikan Vietnam lolos ke fase gugur bahkan sebelum laga kedua. Kim Sang-sik kini punya fleksibilitas untuk merotasi pemain di laga berikutnya melawan lawan yang lebih berat.
Bagi sepak bola Indonesia, hasil ini menjadi pengingat akan kesenjangan kualitas. Vietnam telah membangun sistem yang berkelanjutan sejak era Park Hang-seo, dikukuhkan oleh Kim Sang-sik. Pendekatan jangka panjang, naturalisasi terarah, dan pengembangan pemain muda menciptakan tim yang kohesif dan sulit dikalahkan.
Indonesia yang akan berlaga di Grup A melawan Myanmar, Laos, Filipina, dan Thailand harus menarik pelajaran. Konsistensi performa di fase grup menentukan momentum ke fase knockout. Vietnam membuktikan bahwa memasuki turnamen sebagai juara bertahan bukan beban, melainkan motivasi untuk menegaskan dominasi.
Jadwal padat turnamen yang berlangsung 24 Juli hingga 26 Agustus menuntut manajemen squad yang cerdas. Vietnam dengan kedalaman squad yang baik berada di posisi menguntungkan. Kim Sang-sik bisa memutar pemain tanpa menurunkan kualitas, sesuatu yang menjadi PR bagi pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert.
Laga kedua Vietnam akan melawan Thailand pada Senin (28/7) di laga yang diprediksi akan menentukan pemimpin grup. Thailand yang baru saja berganti pelatih ke Masatada Ishii akan menjadi ujian nyata apakah Vietnam benar-benar siap mempertahankan gelar. Sementara Timor-Leste harus bangkit cepat saat menghadapi Singapura untuk menjaga harapan lolos.