Vietnam resmi meluncurkan serangkaian insentif baru untuk mendorong angka kelahiran setelah setahun menghapus kebijakan pembatasan dua anak yang telah berlangsung lama. Langkah ini diambil sebagai upaya pemerintah dalam menghadapi ancaman penuaan populasi yang terjadi lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Peraturan baru yang mulai berlaku pada 1 Juli ini memberikan perpanjangan cuti melahirkan dari enam menjadi tujuh bulan bagi ibu yang memiliki anak kedua, serta berbagai bentuk bantuan finansial lainnya.
Selain perpanjangan cuti, warga Hanoi kini dapat menikmati fasilitas pemeriksaan prenatal gratis dan bonus tunai bagi ibu yang memenuhi kriteria tertentu. Nilai bonus tunai yang ditawarkan mencapai 228 dolar AS atau setara dengan dua pertiga dari rata-rata gaji bulanan di Vietnam. Kebijakan ini menandai perubahan paradigma besar bagi pemerintah Vietnam, di mana sebelumnya anggota partai komunis bahkan bisa dijatuhi sanksi jika memiliki anak ketiga.
Pham Thi Lan, kepala bagian populasi dan pembangunan di UNFPA Vietnam, menyatakan bahwa negara tersebut kini beralih dari pengendalian keluarga berencana menuju fokus pada pembangunan populasi yang berkelanjutan. Meskipun demikian, tantangan demografis tetap membayangi. Peningkatan angka harapan hidup yang dibarengi dengan penurunan tingkat kelahiran telah menjadikan Vietnam sebagai salah satu negara dengan proses penuaan populasi tercepat di dunia.
Para ekonom memperingatkan bahwa tren demografis ini dapat memicu krisis tenaga kerja dan memberikan tekanan besar pada sistem jaring pengaman sosial nasional di masa depan. Meskipun tingkat kelahiran Vietnam saat ini berada di angka 1,93 per wanita, angka tersebut masih di bawah tingkat penggantian populasi sebesar 2,1. Proyeksi pemerintah menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ini, kelompok penduduk berusia di atas 60 tahun akan mencapai 25 persen dari total populasi.
Namun, efektivitas kebijakan insentif ini masih dipertanyakan oleh masyarakat. Banyak pasangan muda, seperti Nguyen Kim Bich dan suaminya, merasa bahwa bantuan yang ditawarkan belum cukup untuk menutupi tingginya biaya hidup dan membesarkan anak di perkotaan. Dengan biaya hidup yang terus meningkat, insentif berupa tambahan cuti satu bulan dan uang tunai dianggap belum mampu meringankan beban finansial yang signifikan bagi keluarga kelas menengah.
Vietnam kini berada di persimpangan jalan antara kesuksesan pembangunan ekonomi dan ancaman kekurangan tenaga kerja. Sementara negara-negara tetangga seperti Korea Selatan dan Jepang telah lebih dulu terjebak dalam krisis demografis, Vietnam berupaya melakukan langkah mitigasi sejak dini. Keberhasilan inisiatif ini nantinya akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menyediakan dukungan ekonomi yang lebih substansial bagi keluarga muda untuk mendorong minat memiliki anak di tengah tantangan ekonomi modern.