Internasional

Tanda Pemulihan Hubungan, China dan India Buka Kembali Perlintasan Himalaya

Tanda Pemulihan Hubungan, China dan India Buka Kembali Perlintasan Himalaya

Ringkasan

  • China dan India membuka kembali Celah Lipulekh di Himalaya sebagai langkah awal pemulihan hubungan diplomatik setelah enam tahun tertutup.

China dan India secara resmi kembali membuka jalur perdagangan lintas batas melalui Celah Lipulekh di pegunungan Himalaya pekan lalu. Langkah ini dipandang sebagai sinyal positif di tengah upaya kedua negara untuk mencairkan ketegangan diplomatik yang telah berlangsung cukup lama. Pembukaan kembali akses ini terjadi tidak lama setelah kunjungan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, ke New Delhi, yang menandakan adanya niat untuk memperbaiki komunikasi bilateral.

Celah Lipulekh, yang terletak di dekat perbatasan sengketa antara India, China, dan Nepal, telah ditutup selama enam tahun terakhir. Keputusan untuk membuka kembali jalur ini dinilai oleh para pengamat internasional sebagai gestur niat baik dari Beijing. Kendati demikian, para ahli tetap memberikan catatan bahwa perselisihan perbatasan yang sudah mengakar serta rivalitas strategis antara kedua negara Asia ini masih menjadi beban berat yang akan terus membayangi hubungan diplomatik mereka ke depan.

Menurut laporan dari Press Trust of India, kelompok pertama yang terdiri dari 26 pedagang asal Uttarakhand, India, telah berhasil menyeberang ke pasar Taklakot di wilayah Purang, Tibet, pada 26 Juni lalu. Wilayah ini dikenal sebagai titik akses menuju Gunung Kailash yang disucikan dan Danau Manasarovar di prefektur Ngari, Tibet timur. Perjalanan ini menandai dimulainya kembali aktivitas ekonomi yang sempat terhenti akibat ketegangan geopolitik.

Pihak berwenang telah menjadwalkan lebih banyak perjalanan bagi para pedagang selama jendela musiman yang berlangsung hingga bulan September mendatang. Aktivitas ini diharapkan dapat memulihkan arus perdagangan tradisional yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat di sekitar perbatasan. Meskipun skalanya terbatas, pembukaan kembali jalur ini memberikan secercah harapan bagi keberlangsungan interaksi ekonomi antarwarga di wilayah perbatasan.

Wang Dehua, seorang pakar India dari Shanghai Municipal Centre for International Studies, menilai bahwa pembukaan kembali celah tersebut merupakan langkah pragmatis menuju pemulihan hubungan, bukan sebuah perubahan strategi besar. Menurutnya, langkah ini lebih difokuskan pada upaya China dalam mengelola isu-isu terkait wilayah Tibet secara lebih stabil dan terukur di tengah dinamika hubungan yang kompleks dengan India.

Secara keseluruhan, dunia internasional memantau dengan cermat apakah langkah kecil ini akan berlanjut menjadi dialog yang lebih substantif terkait sengketa wilayah yang lebih luas. Meski rivalitas strategis tetap ada, kemauan kedua negara untuk membuka kembali akses perdagangan menunjukkan bahwa diplomasi ekonomi masih menjadi instrumen penting bagi kedua raksasa Asia tersebut dalam menavigasi hubungan mereka di tengah ketidakpastian geopolitik global yang kian menantang.

Mengapa Ini Penting

Stabilitas hubungan antara dua raksasa ekonomi Asia ini sangat krusial bagi rantai pasok global dan keamanan kawasan Indo-Pasifik. Bagi Indonesia, mencairnya ketegangan China-India dapat mengurangi risiko polarisasi geopolitik yang berpotensi memengaruhi kebijakan luar negeri dan stabilitas ekonomi kawasan ASEAN.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
1 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit