Pemerintah Republik Demokratik Kongo (DRC) mengeluarkan peringatan darurat terkait ancaman lonjakan kematian akibat wabah Ebola yang kini mengancam wilayah Provinsi Ituri. Otoritas setempat memproyeksikan bahwa angka kematian dapat mencapai 1.000 jiwa per hari apabila virus mematikan tersebut berhasil menembus dan menyebar di kamp-kamp pengungsian yang padat penduduk.
Menteri Urusan Sosial, Kemanusiaan, dan Solidaritas Nasional, Eve Bazaiba Masudi, menegaskan bahwa situasi saat ini berada dalam kondisi kritis. Provinsi Ituri kini menjadi episentrum penyebaran dengan keberadaan 69 fasilitas penampungan yang dihuni oleh sekitar 1,15 juta warga yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik dan bencana.
Menurut Masudi, kepadatan populasi di fasilitas penampungan tersebut menciptakan risiko transmisi virus yang sangat tinggi. Jika protokol kesehatan gagal membendung penyebaran di area tersebut, dampak kemanusiaan yang ditimbulkan akan sangat masif dan melampaui kapasitas penanganan medis yang tersedia saat ini.
Data terbaru dari otoritas kesehatan mencatat adanya penambahan 26 kematian dalam satu hari, di tengah upaya intensif untuk melakukan perawatan terhadap ratusan pasien yang masih terinfeksi. Selain itu, pemerintah juga mengonfirmasi temuan 42 kasus baru yang tersebar di wilayah Provinsi Ituri serta Kivu Utara, yang menunjukkan bahwa epidemi ini belum sepenuhnya terkendali.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merespons situasi ini dengan menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC) sejak Mei lalu. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan risiko penyebaran lintas batas yang dapat memicu epidemi regional yang lebih luas di kawasan Afrika Tengah.
Upaya mitigasi terus dilakukan oleh pemerintah bersama mitra internasional untuk memperkuat sistem pengawasan kesehatan di titik-titik krusial, terutama di area kamp pengungsian. Langkah ini diharapkan dapat menekan laju infeksi dan mencegah skenario terburuk yang dikhawatirkan oleh para pejabat kesehatan nasional.