Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) menyebar lebih cepat dibandingkan seluruh episode sebelumnya, sementara Uganda mencatatkan progres sebaliknya dengan memulangkan pasien terakhirnya pada Kamis (16/7). Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan bahwa penyebaran kali ini menembus angka 2.000 kasus konfirmasi hanya dalam dua bulan, berbeda jauh dengan wabah 2018–2020 yang membutuhkan waktu lebih dari sepuluh bulan untuk mencapai jumlah serupa.
DRC melaporkan 62 kasus baru pada Kamis, sehingga total infeksi terkonfirmasi mencapai 2.073. Korban jiwa tercatat 796 orang. WHO memperkirakan angka sesungguhnya bisa mencapai dua kali lipat dari catatan resmi tersebut karena banyak rantai penularan belum terdeteksi.
Wabah ke-17 DRC dinyatakan mulai 15 Mei setelah serangkaian kematian muncul di Provinsi Ituri, wilayah timur laut kaya mineral yang kerap dikuasai kelompok bersenjata. Penyebaran virus yang menular lewat kontak erat dan cairan tubuh ini sudah menjangkau lima provinsi di DRC serta negara tetangga Uganda, meski mayoritas kasus terpusat di Ituri.
Kondisi keamanan yang rapuh memperparah penanganan. Di Bunia, ibu kota Ituri, tenaga medis mogok kerja dan memblokade pintu masuk Rumah Sakit Umum Bunia pada Rabu (15/7). Mereka menuntut pembayaran insentif yang belum cair sejak wabah dimulai, padahal harus bekerja di bawah tekanan tinggi dan risiko tertular.
Tedros menyoroti bahwa lebih dari 80 persen kasus baru ditemukan di luar daftar kontak yang sudah diketahui. Artinya, otoritas gagal melacak sebagian besar rantai transmisi. Situasi ini membuat wabah kini berstatus sebagai episode Ebola terbesar ketiga dalam catatan sejarah.
Bagi Indonesia, lonjakan di DRC menjadi pengingat bahwa sistem surveilans penyakit harus selalu siaga. Meski secara geografis jauh, mobilitas warga global dan pekerja migran membuat potensi imported case tetap ada. Kementerian Kesehatan sudah memiliki protokol karantina untuk penyakit demam berdarah Ebola, namun penguatan di bandara internasional dan pelabuhan perlu terus dilakukan.
Indonesia belum pernah mengalami transmisi lokal Ebola. Namun pengalaman saat pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa keterlambatan deteksi akan berujung pada beban rumah sakit yang berat. Investasi pada laboratorium biomolekuler dan pelatihan tenaga kesehatan wilayah terdepan menjadi krusial agar respons lebih cepat dari penyebaran.
Uganda menunjukkan bahwa penanganan disiplin membuahkan hasil. Negara itu melaporkan 20 kasus strain Bundibugyo sejak pertengahan Mei, di mana 15 di antaranya merupakan warga DRC yang melintas ke Uganda. Sejak 22 Juni, tidak ada kasus baru di sana.
Kementerian Kesehatan Uganda menyatakan pasien terakhir, seorang warga negara Kongo, sudah sembuh dan dikembalikan ke keluarganya. Mereka memulai hitungan 42 hari tanpa kasus baru yang menjadi syarat WHO untuk mendeklarasikan negara bebas Ebola.
“Dengan diagnosis dini dan perawatan aman, penyakit ini bisa selamat dan dihentikan,” ucap Tedros merujuk 377 orang di DRC yang sudah pulih. Pernyataan itu sekaligus menekankan pentingnya akses layanan kesehatan di tengah krisis.
Ke depan, DRC harus memulihkan kepercayaan tenaga medis sekaligus memperluas pelacakan kontak ke area konflik. Uganda berpotensi menjadi studi kasus sukses penanganan lintas batas jika tetap nol kasus hingga akhir Agustus. Masyarakat internasional diminta menambah dukungan logistik agar wabah tidak meluas ke negara lain di Afrika tengah.
Tren percepatan wabah seperti di DRC diprediksi akan terus menantang sistem kesehatan negara rapuh. Kolaborasi multilateral dan distribusi vaksin Ebola ke zona merah menjadi langkah penentu sebelum angka kematian naik lebih tinggi.