Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan komitmen pemprov untuk menggelar Jakarta Fair 2027 yang lebih besar, meriah, dan inovatif sebagai salah satu puncak perayaan 500 tahun berdirinya Kota Jakarta. Pernyataan tersebut disampaikan Rano saat meresmikan penutupan Jakarta Fair 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Minggu (12/7) malam, di hadapan ribuan pengunjung yang masih memadati area pameran hingga jam terakhir.
Data resmi yang disampaikan Rano menunjukkan pertumbuhan signifikan pada edisi ke-31 ini. Jumlah pengunjung tercatat mencapai 6,1 juta orang, naik sekitar 12 persen dibandingkan tahun 2025 yang tercatat 5,4 juta pengunjung. Lebih menggiurkan lagi, total nilai transaksi selama 24 hari pameran (19 Juni–12 Juli 2026) tembus Rp8,2 triliun, melonjak dari Rp7,1 triliun pada edisi sebelumnya. Angka ini menempatkan Jakarta Fair sebagai salah satu pameran perdagangan terbesar di Asia Tenggara sekaligus barometer kekuatan daya beli masyarakat metropolitan.
"Ini mengindikasikan bahwa kekuatan ekonomi Jakarta masih cukup survive di dalam situasi ekonomi seperti ini," ujar Rano, menunjuk pada kondisi makroekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Ia menambahkan, daya tahan itu didorong oleh partisipasi masif pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kebijakan insentif berupa diskon dan kemudahan akses yang diberikan penyelenggara. "Di sini berkumpul UMKM, pengusaha-pengusaha kecil, dan kita sebagai penyelenggara juga banyak memberikan kemudahan-kemudahan dengan diskon-diskonnya," tegas mantan bintang film itu.
Lebih dari sekadar ajang jual beli, Rano mendefinisikan Jakarta Fair sebagai "miniatur Jakarta" — ruang di mana pemerintah, dunia usaha, UMKM, industri kreatif, dan masyarakat bergerak sinkron menggerakkan roda perekonomian kota. Edisi 2026 melibatkan lebih dari 1.800 stan dan 2.800 peserta, dengan ratusan pelaku UMKM serta industri kreatif berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bukan hanya Jabodetabek. Komposisi ini memperkuat peran Jakarta Fair sebagai etalase produk unggulan nasional sekaligus platform pertemuan, peluang usaha, investasi, dan kolaborasi kreatif.
Momentum 500 tahun Jakarta pada 22 Juni 2027 — dihitung sejak penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah tahun 1527 — menjadi landasan strategis untuk merancang edisi ke-32. Pemprov DKI telah membentuk tim khusus yang mengkoordinasikan serangkaian acara perayaan sepanjang tahun, di mana Jakarta Fair diposisikan sebagai "kado terbaik" sekaligus puncak eksekutif dari festival budaya, sejarah, dan ekonomi. Rano menginginkan inovasi berupa zona tematis yang lebih kaya, integrasi teknologi digital untuk pengalaman pengunjung (seperti AR/VR pada paviliun sejarah), serta perluasan ruang bagi startup dan ekonomi hijau.
Dari sisi infrastruktur, pengelola JIExpo Kemayoran — PT Jakarta International Expo — telah menyelesaikan revitalisasi Hall A dan B serta penambahan area parkir bertingkat guna mengantisipasi lonjakan kunjungan 2027 yang diproyeksi melewati 7 juta orang. Kerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Koperasi dan UMKM juga diperkuat untuk memfasilitasi program matching fund, pelatihan digital marketing, serta akses permodalan bagi pelaku UMKM yang ikut pameran. "Kita ingin Jakarta Fair bukan hanya tempat menjual, tapi tempat UMKM naik kelas," kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM DKI Jakarta, Suharini Eliawati, terpisah.
Analis ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri, menilai angka transaksi Rp8,2 triliun mencerminkan elastisitas permintaan yang masih tinggi pada barang-barang non-makanan seperti fashion, kerajinan, dan produk kreatif. "Jakarta Fair berfungsi sebagai stimulus fiskal non-budjet yang efektif. Uang berputar di tangan pedagang kecil, pengemudi ojek online, hingga penyedia konsumsi di sekitar pameran," ujarnya. Ia menyarankan agar edisi 2027 memperluas ruang bagi produk bernilai tambah tinggi (high value-added) agar dampak multiplikator makin besar.
Secara sejarah, Jakarta Fair bermula dari Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang digulirkan sejak 1968 di Lapangan Monas, sebelum pindah ke Kemayoran 1992 dan berganti nama menjadi Jakarta Fair 2000-an. Transformasi dari pameran kemasyarakatan ke event bisnis skala internasional mencerminkan evolusi Jakarta dari kota administrasi kolonial menjadi pusat ekonomi ASEAN. Edisi 2027 akan menjadi uji nyata apakah Jakarta Fair mampu melampaui label "pameran tahunan" menjadi festival ekonomi budaya berkelas dunia yang meninggalkan warisan (legacy) jangka panjang bagi kota kelahiran 500 tahun ini.