Internasional

Washington Setujui Penjualan Senjata Rp35 Triliun ke Riyadh

Ringkasan

  • AS menyetujui jual senjata Rp35 triliun ke Saudi pada 16 Juli untuk perkuat pertahanan udara Riyadh amid ketegangan Timur Tengah.

Amerika Serikat mengesahkan penjualan perlengkapan militer senilai 1,96 miliar dolar AS atau sekitar Rp35 triliun kepada Arab Saudi pada Rabu, 16 Juli. Persetujuan melalui skema Foreign Military Sales itu bertujuan memperkuat sistem pertahanan udara kerajaan tersebut di tengah eskalasi ketegangan keamanan di Timur Tengah.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan transaksi tersebut selaras dengan kepentingan strategis Washington serta keamanan nasionalnya. Riyadh disebut sebagai sekutu utama non-NATO yang berperan menjaga stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk. Paket senjata ini diumumkan ketika konflik regional semakin memanas, termasuk ketegangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Paket yang disetujui mencakup hingga 20 ribu unit Advanced Precision Kill Weapon Systems (APKWS) lengkap dengan hulu ledaknya. Sistem ini dikenal sebagai senjata presisi berbiaya relatif murah untuk menghancurkan sasaran dengan dampak kerusakan minimal di sekitar area pertempuran jarak dekat. Angkatan Laut AS mencatat APKWS efektif menggantikan sebagian peran rudal mahal dalam operasi tertentu.

Selain sistem presisi tersebut, Arab Saudi juga akan menerima peluncur, hulu ledak berdaya ledak tinggi, motor roket, dan perlengkapan pertahanan pendukung lainnya. BAE Systems yang berbasis di Nashua, New Jersey, ditunjuk sebagai kontraktor utama dalam kesepakatan ini. Washington menegaskan pengiriman tidak akan mengganggu kesiapan pertahanan militernya sendiri.

Latar belakang persetujuan ini erat dengan ancaman keamanan yang dihadapi Riyadh secara langsung. Pada 13 Juli, kelompok Houthi yang berbasis di Yaman menembakkan rudal ke Bandara Abha di Arab Saudi bagian selatan. Serangan terjadi setelah bandara di Sanaa dibom, memaksa pesawat delegasi Houthi yang baru pulang dari pemakaman pemimpin tertinggi Iran membatalkan pendaratan.

Houthi menuding Saudi berada di balik serangan udara ke Sanaa. Abdul-Malik al-Houthi, pemimpin kelompok itu, lantas mengeluarkan peringatan keras pada Kamis pekan ini. Ia menyebut seluruh fasilitas minyak dan infrastruktur vital kerajaan akan menjadi sasaran rudal serta drone jika Riyadh ikut meningkatkan eskalasi.

Persetujuan senjata AS juga muncul saat gencatan senjata antara Washington dan Tehran mulai rapuh. AS meningkatkan serangan udara setelah memberlakukan blokade laut terhadap Iran. Kondisi ini membuat Arab Saudi semakin rentan terkena limpahan konflik proxy di Selat Hormuz dan perbatasan selatannya.

Dari perspektif industri pertahanan, transaksi ini menunjukkan tren penguatan pertahanan udara berbiaya efisien. Negara dengan anggaran besar seperti Saudi mulai mengurangi ketergantungan pada rudal Patriot yang mahal dengan mengadopsi APKWS untuk ancaman drone dan roket jarak dekat. Hal ini relevan bagi Indonesia yang juga menghadapi ancaman udara tak konvensional di perbatasan.

TNI saat ini masih mengandalkan sistem rudal pertahanan udara seperti Oerlikon Skyshield dan NASAMS untuk objek vital. Namun, ancaman drone kamikaze di wilayah perbatasan dan pulau terluar belum sepenuhnya terjangkau oleh sistem berbiaya tinggi. Pengalaman Saudi menunjukkan pentingnya diversifikasi senjata presisi murah sebagai pelapis pertahanan.

Pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS menegaskan paket tersebut akan meningkatkan kemampuan Saudi menangkal ancaman kini dan mendatang. "Penjualan yang diusulkan ini akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk menangkal ancaman saat ini maupun di masa depan dengan memperkuat pertahanan dalam negerinya," bunyi keterangan tersebut. Washington juga menekankan peningkatan interoperabilitas dengan pasukan AS, regional, maupun NATO.

Abdul-Malik al-Houthi menyatakan ancaman terhadap infrastruktur energi Saudi bukan sekadar retorika. Peringatannya mencerminkan pola konflik asymmetris di mana fasilitas sipil dijadikan target tekanan politik. Ini memperlihatkan bahwa pertahanan udara konvensional tidak cukup tanpa sistem deteksi dini dan intersepsi berbiaya rendah.

Ke depan, pengiriman APKWS dan perlengkapannya akan memengaruhi keseimbangan kekuatan di Teluk. Saudi diproyeksikan lebih mandiri dalam menghadapi drone Houthi, sementara AS mempertahankan pengaruh melalui rantai pasok pertahanan. Blokade terhadap Iran dan instabilitas Yaman diprediksi membuat kesepakatan serupa terus berlanjut.

Bagi Indonesia, tren ini menggarisbawahi urgensi investasi pada sistem pertahanan udara terdistribusi. Kementerian Pertahanan perlu mempertimbangkan alokasi anggaran untuk senjata presisi lokal atau kerja sama transfer teknologi. Ancaman ruang udara tak berbatas memerlukan strategi yang tidak hanya mengandalkan alat mahal, tetapi juga solusi lapis dan terjangkau.

Mengapa Ini Penting

Persetujuan senjata AS ke Saudi menandai bergesernya strategi pertahanan udara global ke arah sistem presisi berbiaya rendah, yang relevan dengan kerentanan Indonesia terhadap drone di perbatasan. Ketergantungan pada alat mahal seperti Patriot mulai ditinggalkan negara kaya karena efisiensi APKWS. Masyarakat Indonesia luas terdampak melalui kebijakan alokasi anggaran pertahanan yang semestinya lebih adaptif terhadap ancaman asymmetris. Tren ini juga memengaruhi stabilitas harga energi global mengingat Saudi pengekspor minyak utama.

Sumber Asli
Tempo Dunia
Tanggal
18 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit