Gaya Hidup

Waspadai Tanda Kecemasan Anak saat Menghadapi Hari Pertama Sekolah

Ringkasan

  • Psikolog anak Vera Itabiliana menyatakan orang tua dan guru wajib mengenali tanda kecemasan anak seperti menangis berlebihan atau keluhan fisik saat memasuki sekolah baru guna memperlancar adaptasi.

Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, Psikolog, menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua dan tenaga pendidik terhadap gejala kecemasan yang dialami anak saat memasuki lingkungan sekolah yang baru. Masa transisi dari rumah ke bangku sekolah kerap memicu tekanan psikologis bagi anak yang belum siap beradaptasi dengan situasi di luar zona nyaman mereka.

Kondisi ini tidak melulu ditunjukkan dengan tangisan berlebihan. Anak yang mengalami kecemasan berlebih sering kali menolak masuk ke dalam kelas atau secara terus-menerus meminta ditemani oleh orang tua mereka. Respons emosional tersebut merupakan reaksi alami ketika mereka dihadapkan pada perpisahan sementara dengan figur pengasuh utama.

Latar belakang munculnya kecemasan sekolah berakar pada proses adaptasi terhadap rutinitas baru. Institusi pendidikan menuntut anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya, menerima otoritas guru, serta mengikuti struktur kegiatan yang teratur. Bagi anak yang sebelumnya menikmati pengasuhan intens di rumah, perubahan mendadak ini menciptakan jarak emosional yang perlu dikelola secara perlahan.

Di Indonesia, fenomena ini kerap dianggap remeh oleh sebagian orang tua. Keluhan fisik seperti pusing atau mual yang tidak berdasar medis acap kali disikapi dengan pengobatan fisik ketimbang pendekatan psikologis. Padahal, gejala tersebut merupakan sinyal bahwa sistem saraf anak sedang memproses ketakutan akan perpisahan atau lingkungan sosial yang baru.

Dampak dari ketidaktahuan ini cukup luas bagi tumbuh kembang anak. Anak yang tidak mendapatkan pendampingan tepat berisiko mengalami hambatan sosial jangka panjang. Mereka bisa kehilangan minat untuk bermain, menarik diri dari pergaulan, atau bahkan mengalami kemunduran perilaku seperti kembali mengompol di usia yang seharusnya sudah lewat dari fase tersebut.

Kolaborasi antara rumah dan sekolah menjadi kunci utama dalam menangani adaptasi ini. Guru yang peka dapat memberikan observasi harian mengenai tingkat kenyamanan anak di kelas. Sebaliknya, orang tua perlu konsisten dalam membangun rutinitas pagi yang menenangkan sebelum proses belajar mengajar dimulai.

Menurut Vera yang berpraktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, keluhan fisik pada anak sering kali muncul tanpa adanya gangguan kesehatan nyata. "Mengeluh sakit perut, mual, pusing, atau keluhan fisik lain padahal tidak ada gangguan medis, terutama menjelang berangkat sekolah," ujar psikolog tersebut.

Di sisi lain, perubahan perilaku kognitif juga terlihat jelas. Anak kerap kali terus menanyakan hal yang sama, misalnya memastikan siapa yang akan menjemput mereka nanti. Kesulitan berkonsentrasi dan enggan berinteraksi dengan guru atau teman menjadi indikator bahwa beban psikologis mereka sedang berada pada titik tinggi.

Vera menambahkan, manifestasi kecemasan bisa bermuara pada perubahan suasana hati yang ekstrem. Anak menjadi lebih mudah marah, rewel, atau justru lebih pendiam dari biasanya. Jika tanda-tanda ini berlangsung terus-menerus selama beberapa minggu, langkah konsultasi dengan tenaga ahli seperti psikolog sebaiknya segera diambil.

Apabila intensitas kecemasan semakin berat hingga membuat anak sama sekali tidak mampu mengikuti kegiatan sekolah, orang tua wajib berkonsultasi dan bekerja sama dengan pihak sekolah secara lebih intensif. Langkah ini mencegah trauma berkepanjangan yang dapat mengganggu fokus belajar di masa depan.

Intervensi dini akan menentukan keberhasilan anak di jenjang pendidikan berikutnya serta membentuk resiliensi mereka terhadap lingkungan baru. Dukungan psikologis yang diberikan sejak dini melatih anak mengenali dan mengelola emosi negatifnya sendiri.

Penanganan yang tepat bukan sekadar memaksa anak masuk kelas, melainkan membangun rasa aman secara bertahap. Dengan pemahaman yang utuh dari orang tua dan guru, masa awal masuk sekolah dapat bertransformasi dari momen penuh ketakutan menjadi pengalaman sosial yang positif bagi perkembangan mental anak.

Mengapa Ini Penting

Di tengah tingginya angka partisipasi siswa baru, pemahaman orang tua terhadap kecemasan anak menjadi penentu utama keberhasilan sistem pendidikan inklusif di Indonesia. Ketidakmampuan mengenali gejala ini berisiko memicu penanganan salah seperti pemberian obat pereda nyeri pada keluhan psikosomatis, yang menutupi akar masalah psikologis. Ke depan, sekolah perlu mengadopsi kurikulum transisi emosional yang terintegrasi dengan aplikasi pemantauan orang tua, bukan sekadar orientasi akademik. Masyarakat luas juga dituntut beralih dari stigma 'anak nakal' menjadi perspektif kesehatan mental yang terbuka.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit