Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru mengantongi sekitar 40 persen dari permohonan dana senilai 115 juta dolar AS untuk menumpas wabah Ebola di Kongo timur. Virus jenis Bundibugyo yang menyerang wilayah tersebut belum memiliki penanganan atau vaksin yang terbukti ampuh. Data pemerintah setempat mencatat sedikitnya 1.926 orang terinfeksi dan 702 di antaranya meninggal dunia.
Chikwe Ihekweazu, Direktur Program Kedaruratan Kesehatan WHO, menekankan betapa gentingnya situasi ini dalam konferensi pers di Jenewa pada Selasa (14/7) setelah mengunjungi provinsi Ituri yang paling parah terdampak. Ia meminta donor internasional tidak meninggalkan Kongo di tengah fase krusial epidemi tersebut.
Wabah Ebola bukanlah fenomena baru di Republik Demokratik Kongo, namun strain Bundibugyo membawa tantangan tersendiri. Berbeda dengan strain Zaire yang pernah ditangani dengan vaksin eksperimental, varian kali ini belum memiliki senjata medis yang sah. Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur kesehatan yang rapuh serta konflik bersenjata di kawasan timur.
Kekurangan pendanaan terjadi karena perhatian global kerap terfragmentasi ketika krisis protraksi. Padahal WHO telah melansir seruan bantuan khusus, tetapi realisasinya baru menyentuh angka 46 juta dolar AS. Ketika kasus pekan ini melompat ke dua provinsi baru, kebutuhan akan intervensi cepat semakin mendesak.
Ihekweazu memperkirakan jumlah penderita sebenarnya minimal dua kali lipat, bahkan bisa melebihi empat kali angka resmi. Bila estimasi atas dipakai, infeksi aktual mampu menembus 7.700 kasus. Selisih tersebut mencerminkan lubang dalam pelacakan kontak dan pemeriksaan laboratorium di lapangan.
Bagi masyarakat Indonesia, peristiwa di Kongo menegaskan bahwa keamanan kesehatan global tidak mengenal batas teritorial. Negara kepulauan dengan mobilitas penduduk tinggi seperti Indonesia sangat bergantung pada sistem deteksi dini berbasis teknologi. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa kewaspadaan harus dipadukan dengan alat diagnostik portabel dan jejaring pelaporan digital.
Saat pandemi COVID-19, Indonesia mengoperasikan aplikasi PeduliLindungi untuk pelacakan kontak. Namun untuk Ebola, ketiadaan vaksin di tingkat lokal membuat strategi bergeser ke penguatan screening perbatasan dan kapasitas laboratorium biokeamanan tinggi. Defisit dana WHO saat ini menjadi alarm bahwa ancaman lintas negara bisa membesar bila tak diredam.
Sektor teknologi kesehatan dalam negeri dapat menarik pelajaran dari permintaan WHO akan dukungan tes laboratorium dan penelusuran kontak. Startup telemedisin serta pemetaan geospasial berpotensi memperkuat kesiapsiagaan, meski saat ini fokus mereka belum tertuju pada Ebola. Kolaborasi lintas sektor akan menentukan ketahanan bangsa terhadap patogen emergen.
"Wabah ini membutuhkan sumber daya yang sepadan dengan skala tantangan yang kita hadapi. Beban ini tidak boleh dibiarkan ditanggung sendiri oleh Kongo," tegas Ihekweazu. Ia mengibaratkan penanganan epidemi seperti maraton: "Anda tak boleh menyerah setelah putaran pertama atau kedua. Teruslah mendorong meski kelelahan melanda."
Di saat kekurangan dana masih membayangi, Singapura mengumumkan sumbangan 2 juta dolar AS untuk mendukung respons di Kongo dan Uganda. Alokasi tersebut ditujukan bagi penguatan tes laboratorium, pelacakan kontak, pencegahan infeksi, serta manajemen kasus di garis depan.
Ke depan, WHO akan memfokuskan upaya intensifikasi deteksi dan isolasi pasien guna memutus rantai penularan. Pertemuan dengan donor besar diperkirakan digelar dalam waktu dekat untuk menutup celah pendanaan. Apabila komitmen tak kunjung memadai, wabah berisiko memperpanjang draf dan menjangkau negara tetangga.
Pembangunan sistem kesehatan di wilayah endemik harus menjadi prioritas jangka panjang. Indonesia perlu memelihara kewaspadaan serta berinvestasi pada teknologi diagnostik mandiri guna mengantisipasi ancaman serupa. Kerja sama global yang solid merupakan prasyarat agar krisis seperti Ebola tak berubah menjadi bencana lintas benua.