Internasional

WHO Laporkan Angka Kematian Ebola di RD Kongo Capai 452 Jiwa

WHO Laporkan Angka Kematian Ebola di RD Kongo Capai 452 Jiwa

Ringkasan

  • WHO melaporkan 452 kematian akibat wabah Ebola jenis Bundibugyo di RD Kongo dengan penyebaran yang mulai terdeteksi di Uganda dan Prancis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lonjakan signifikan dalam wabah penyakit virus Bundibugyo (BVD), salah satu varian mematikan dari virus Ebola, di Republik Demokratik (RD) Kongo. Hingga 1 Juli, otoritas kesehatan mencatat sebanyak 452 orang meninggal dunia akibat infeksi tersebut dari total 1.460 kasus yang terkonfirmasi. Penularan virus ini dilaporkan terus meluas ke berbagai zona kesehatan baru, meningkatkan kekhawatiran global akan eskalasi epidemi di wilayah tersebut.

Dalam pembaruan Disease Outbreak News yang dirilis Jumat (3/7), WHO juga menyoroti penyebaran virus ke negara tetangga, Uganda. Hingga 2 Juli, Uganda telah melaporkan 20 kasus terkonfirmasi dengan dua kematian, serta satu kasus kematian yang diduga kuat terkait dengan Ebola. Kasus terakhir di Uganda tercatat pada 21 Juni. Selain itu, otoritas Prancis melaporkan satu kasus infeksi BVD pada seorang dokter yang baru saja kembali dari RD Kongo, menunjukkan adanya risiko transmisi lintas negara melalui jalur perjalanan internasional.

Kaitan epidemiologis antara wabah di Uganda dan RD Kongo menjadi perhatian utama para ahli kesehatan. Bukti menunjukkan adanya infeksi impor serta penularan sekunder yang terjadi di antara kontak erat dan tenaga kesehatan. Menanggapi situasi ini, otoritas nasional di kedua negara tengah bekerja sama secara intensif dengan WHO dan berbagai mitra global untuk menerapkan langkah-langkah penanggulangan yang komprehensif, termasuk penguatan surveilans dan kesiapsiagaan di tingkat regional.

Secara biologis, BVD merupakan penyakit zoonosis berat. Kelelawar buah diduga kuat sebagai reservoir alami virus ini, yang kemudian menular ke manusia melalui kontak langsung dengan satwa liar yang terinfeksi atau cairan tubuh penderita yang telah menunjukkan gejala. Masa inkubasi virus berkisar antara dua hingga 21 hari. Tantangan utama dalam deteksi dini adalah gejala awal yang tidak spesifik, seperti demam dan kelelahan, yang sering kali menunda diagnosa sebelum akhirnya berkembang menjadi manifestasi hemoragik yang parah.

Dalam penilaian risiko terbarunya per 6 Juni, WHO menetapkan tingkat risiko wabah di RD Kongo pada level sangat tinggi akibat penularan yang berkelanjutan. Sementara itu, Uganda dan negara-negara di sekitarnya berada pada tingkat risiko tinggi karena mobilitas penduduk yang intens di wilayah lintas perbatasan. Meskipun risiko untuk kawasan Afrika lainnya dan dunia secara global dinilai rendah, kapasitas respons yang bervariasi di setiap negara tetap menjadi faktor krusial yang dipantau ketat oleh komunitas internasional.

Sebagai catatan historis, wabah virus ini pernah terjadi pada tahun 2007 dan 2012 dengan tingkat kematian kasus masing-masing mencapai 30 persen dan 50 persen. Upaya mitigasi saat ini difokuskan pada penghentian transmisi melalui edukasi masyarakat, perlindungan tenaga medis, dan penguatan sistem kesehatan untuk mencegah terulangnya angka kematian tinggi seperti pada wabah-wabah sebelumnya.

Mengapa Ini Penting

Penyebaran penyakit menular lintas negara menjadi pengingat penting bagi sistem ketahanan kesehatan global dalam menghadapi ancaman zoonosis. Bagi Indonesia, mobilitas internasional yang tinggi menuntut kesiapsiagaan deteksi dini di pintu masuk negara agar potensi penyebaran virus mematikan dapat segera dimitigasi.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
4 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit