Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao menyambangi kediaman Presiden Joko Widodo di Solo, Jumat (4/9), dalam pertemuan yang diselimuti suasana hangat dan penuh penghargaan budaya. Kedatangan Xanana disambut langsung oleh Jokowi di depan gerbang rumahnya, lalu diiringi keroncong Bengawan Solo yang menjadi simbol kenegaraan Indonesia.
Pertemuan ini bukan sekadar aksi diplomatik formal, melainkan momen yang menampilkan kehangatan hubungan kembaranan kedua negara. Jokowi memandang Xanana dengan senyum lebar sambil mengucapkan: “Welcome to Solo, welcome to my home.” Sementara itu, Xanana membalas dengan senyum khasnya sebelum memasuki kompleks perumahan presiden.
Setelah memasuki rumah, Xanana langsung disambut oleh aransemen keroncong Bengawan Solo. Ia tak hanya mendengarkan dengan senang hati, bahkan turut ikut bernyanyi dan bahkan mencoba menjadi dirigen sejenak. Suasana ini mencerminkan komunikasi budaya yang tak terlalu kaku, justru penuh keakraban seperti keluarga besar yang bertemu setelah lama terpisah.
Santap siang pun mengikuti. Jokowi mengajak Xanana duduk bersama untuk makan siang. Menu yang disajikan meliputi onde-onde khas Solo dan sosis ayam. Selama makan, keduanya bertukar cerita santai seolah duduk di rumah teman dekat, bukan pemimpin dua negara.
Xanana juga sempat bergurau ringan dengan para awak media yang hadir. Dengan senarnya, ia bertanya: “Sudah lapar belum?” — sebuah sindiran halus namun ramah yang memicu tawa di sekitar.
Latar belakang pertemuan ini erat kaitatnya dengan dinamika regionalisme di Asia Tenggara. Keduanya pernah beberapa kali bertukar kunjungan resmi, baik dalam forum ASEAN maupun secara bilateral. Hubungan Timor Leste-Indonesia semakin erat sejak akhir konflik kemerdekaan pada 2002, dan keduanya saling mendukung dalam berbagai isu multilateral.
Indonesia pernah menjadi medan perlindungan bagi banyak warga Timor Leste saat masa transisi menuju kemerdekaan. Xanana sendiri dikenal dekat dengan dinamika politik Indonesia, terutama saat masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Kini, dengan posisinya sebagai Perdana Menteri, ia tetap menjaga komunikasi yang intens dengan pemerintah Jokowi.
Dampak dari pertemuan ini terlihat dari sisi kepentingan bilateral ekonomi dan keamanan. Kedua negara sama-sama ingin memperkuat kerja sama di bidang energi, pertanian, dan pariwisata. Selain itu, kolaborasi keamanan juga menjadi poin penting mengingat maraknya ancaman terorisme dan perubahan iklim yang membuka ruang bagi kejahatan transnasional.
Untuk masyarakat Indonesia, terutama di wilayah timur Nusra Tenggara dan Maluku, hubungan erat dengan Timor Leste bukan sekadar soal diplomasi, tetapi juga soal kehidupan sehari-hari. Banyak keluarga di pulau-pulau seperti Rote dan Kupang yang memiliki keterikatan keluarga dengan saudara di seberang laut.
Sementara dari sudut pandang pemerintah pusat, pertemuan semacam ini menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi pelopor kestabilan di kawasan. Jokowi dikenal aktif mempromosikan nilai-nilai persaudaraan melalui berbagai forum, termasuk ASEAN dan KTT APEC.
Sementara itu, dari perspektif Timor Leste, menjaga hubungan baik dengan Indonesia penting untuk menjaga stabilitas politik dan ekonomi negara yang masih dalam proses pembangunan pasca-konflik. Xanana sebagai tokoh sentral dalam gerakan kemerdekaan dulu kini berperan sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Di sisi lain, pertemuan ini juga menjadi simbol betapa budaya bisa menjadi alat diplomasi yang kuat. Lagu Bengawan Solo, yang dikenal luas di kalangan Indonesia, justru menjadi alat untuk menyampaikan pesan persahabatan yang tulus dan tidak formil.
Melihat dinamika ini, tak mengherankan bila pertemuan serupa akan terus digelar secara rutin. Kedua pemimpin juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama teknologi informasi dan komunikasi, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.
Ke depan, proyeksi kerja sama antara Indonesia dan Timor Leste terlihat cukup cerah. Dengan semangat persaudaraan yang kuat dan komitmen saling menghormati, kedua negara bisa menjadi contoh kolaborasi yang sukses di tengah kompleksitas geopolitik global.