Presiden Tiongkok Xi Jinping tiba di ibu kota Mesir, Kairo, untuk pertemuan dua hari dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, dalam kunjungan pertama ke negara tersebut dalam satu dekade. Kunjungan ini bertepatan dengan perayaan 70 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara, sekaligus menjadi momentum penting bagi Tiongkok untuk memperdalam pengaruhnya di kawasan Timur Tengah yang strategis.
Pertemuan kedua pemimpin difokuskan pada kerja sama ekonomi, investasi, serta keamanan maritim. Dua negara diperkirakan akan menandatangani serangkaian perjanjian dalam bidang teknologi, transportasi, dan manufaktur, termasuk kolaborasi di bidang kecerdasan buatan (AI). Xi juga menekankan pentingnya ekspansi kolaborasi praktis antara kedua negara, sementara el-Sisi menyampaikan dukungan penuh atas kebijakan satu Tiongkok terkait Taiwan.
Kunjungan ini datang di tengah ketidakstabilan geopolitik yang semakin membesar di kawasan. Konflik Israel-Hamas di Gaza, serta eskalasi antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, telah menciptakan ketegangan baru di Laut Merah dan Selat Hormuz. Beberapa negara sekutu AS seperti Pakistan, Arab Saudi, dan Turkiye baru saja membentuk Pakta Pertahanan Mecca, menandakan upaya mereka untuk mencari alternatif keamanan di luar kerangka AS.
Sebagai akibatnya, banyak negara-negara di kawasan justru semakin tertarik mendekatkan hubungan dengan Tiongkok. Mesir, yang menjadi salah satu mitra dagang terbesar AS di wilayah, kini sedang berupaya memperkaya kebijakan luarnya agar tidak bergantung sepenuhnya pada satu blok. Dengan demikian, kunjungan Xi ke Kairo dapat dibaca sebagai bagian dari strategi Tiongkok untuk menjadikan Mesir sebagai poros penting dalam diplomasi globalnya, terutama mengingat kontrol Mesir terhadap Selat Suez yang krusial bagi perdagangan dunia.
Para ahli meyakini bahwa langkah Tiongkok ini merupakan upaya sadar untuk menjadi pelaku utama alternatif di kawasan yang sejenjak lama didominasi AS. Menurut Rob Geist Pinfold, dosen Keamanan Internasional di King’s College London, Tiongkok sedang memosisikan dirinya sebagai aktor ekonomi dan diplomatik yang lebih bertanggung jawab dan tidak mengintervensi. “Ini adalah strategi untuk menyeimbangkan pengaruh AS tanpa menimbulkan konflik langsung,” katanya.
Dari sudut pandang Indonesia, dinamika ini relevan sekaligus menguntungkan. Indonesia yang merupakan anggota BRICS dan memiliki hubungan strategis dengan Tiongkok juga berada di ambang peran dalam diplomasi global. Kolaborasi Tiongkok-Mesir di bidang infrastruktur dan teknologi dapat menjadi model bagi kemitraan sejenis yang sedang dibangun di Indonesia, khususnya di sektor transportasi dan energetik.
Beijing telah menginvestasikan lebih dari 10 miliar dolar AS di Mesir, termasuk pembangunan Ibu Kota Administrasi Baru di pinggir Kairo dan jaringan kereta api listrik di Delta Nil. Investasi ini juga mencakup pengembangan pelabuhan kontainer, hidrogen hijau, serta satelit komunikasi. Sebagian besar proyek berada di wilayah Selat Suez dan Zona Kerja Sama Tiongkok-Mesir (TEDA) di Ain Sokhna, bagian dari inisiatif Belt and Road yang diinisiasi Tiongkok.
Hubungan keduanya semakin erat sejak 2014, ketika el-Sisi pertama kali bertandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis dengan Tiongkok. Pada 2023, Mesir resmi bergabung dalam kelompok BRICS, yang juga anggotanya termasuk Indonesia. Data resmi menunjukkan bahwa nilai perdagangan dua arah mencapai 20,7 miliar dolar AS pada akhir 2025, dengan ekspor Mesir ke Tiongkok mengalami peningkatan hampir 200 persen dalam enam bulan pertama tahun 2026.
Namun, para pengamat menegaskan bahwa Mesir tidak sepenuhnya berbalik ke arah Tiongkok. Justru, pendekatan el-Sisi lebih tepat disebut sebagai diversifikasi — atau “hedging” — agar tetap menjaga kedekatannya dengan AS. “Ini bukan pilihan antara dua blok, tapi upaya untuk memaksimalkan manfaat dari kedua belah pihak,” ujar Pinfold.
Di sisi lain, Tiongkok juga mengintensifkan kerja sama militer dengan Mesir. Pada Agustus lalu, kedua negara menggelar latihan udara bersama yang melibatkan pesawat tempur J-16 dari Tiongkok dan Rafale buatan Prancis milik Angkatan Udara Mesir. Ini pertama kalinya J-16 ikut serta dalam latihan tempur bersama dengan pesawat asing aset-asing.
Dengan demikian, kunjungan Xi ke Mesir tidak hanya simbolik, tetapi juga strategis. Ia menandai langkah Tiongkok untuk menjadi pemain kunci di kawasan yang semakin kompetitif, sementara memberi Mesir ruang untuk menyeimbangkan kepentungan strategisnya. Jika tren ini berlanjut, kita dapat menyaksikan munculnya arus baru dalam diplomasi multilateral, yang tidak lagi bersifat biner antara blok Barat dan Timur, tetapi lebih dinamis dan bersifat kawasan.
Untuk Indonesia, penguatan kemitraan semacam ini dapat menjadi pelajaran penting dalam mengembangkan kebijakan luar negeri yang mandiri dan inklusif. Dengan menjadi anggota BRICS dan menjaga hubungan baik dengan berbagai kekuatan global, Indonesia juga berada di persimpangan jalan strategis yang serupa. Kolaborasi teknologi, infrastruktur, dan keamanan yang dikembangkan oleh Tiongkok dan Mesir dapat menjadi referensi bagi upaya serupa yang sedang digerakkan di dalam negeri.
Sementara itu, dinamika pasca-kunjungan ini akan menentukan arah kebijakan selanjutnya. Apakah Mesir akan terus memperluas peran Tiongkok dalam sektor strategis? Bagaimana AS akan merespons peningkatan pengaruh Tiongkok di kawasan? Jawaban atas pertanyaan ini akan membentuk peta kebijakan baru di Timur Tengah, yang tak jaraknya akan memengaruhi dinamika geopolitik global, termasuk peran Indonesia sebagai pelaku utama di dunia multipolar yang sedang berkembang.